KALTIMPOST.ID, Vitamin D tak sekadar berfungsi menjaga kesehatan tulang dan daya tahan tubuh, tetapi juga erat kaitannya dengan kualitas tidur. Sejumlah riset menunjukkan, rendahnya kadar vitamin D dapat memicu durasi tidur yang lebih singkat, sering terbangun saat malam, hingga kesulitan memejamkan mata.
Lantas, kapan waktu paling ideal mengonsumsi suplemen vitamin D agar manfaatnya untuk tidur lebih maksimal?
Melansir Health, mengonsumsi suplemen vitamin D pada pagi atau siang hari bisa menjadi pilihan tepat. Hal ini berhubungan dengan peran vitamin D dalam memproduksi melatonin dan serotonin, dua zat kunci yang mengatur siklus tidur dan bangun tubuh.
Melatonin bertindak sebagai hormon penentu waktu tidur, sementara serotonin berperan mengontrol suasana hati sekaligus proses biologis yang berkaitan dengan istirahat malam.
Kekurangan Vitamin D Memicu Masalah Tidur
Kondisi defisiensi vitamin D terbukti berhubungan dengan beragam gangguan tidur. Seseorang yang kekurangan nutrisi ini cenderung memiliki jam tidur yang pendek, sering terbangun di tengah malam, atau sulit mencapai tidur nyenyak.
Apoteker berlisensi Emmanuella Ogbonna menerangkan bahwa menjaga kecukupan vitamin D harian sangat membantu mendukung kualitas istirahat secara menyeluruh.
Beberapa uji klinis turut menunjukkan bahwa asupan suplemen vitamin D berpotensi memperhitungkan peningkatan kualitas tidur pada kelompok tertentu, seperti lansia dan ibu hamil.
Meski begitu, para peneliti belum sepenuhnya memetakan mekanisme pasti bagaimana vitamin D memengaruhi pola tidur. Hubungan ini juga bukan berarti setiap penderita gangguan tidur otomatis memerlukan suplemen vitamin D.
Lebih Bagus Pagi atau Malam Hari?
Sejumlah pakar menyarankan agar vitamin D diminum pada pagi atau siang hari sesuai ritme alami tubuh. Ada pula kekhawatiran bahwa konsumsi di malam hari bisa mengganggu produksi melatonin dan merusak pola tidur sebagian orang.
Namun, bukti ilmiah yang ada belum sepenuhnya memastikan bahwa minum vitamin D pada pagi hari selalu lebih unggul dibanding malam hari.
Efek yang dirasakan setiap individu bisa berbeda-beda. Jika merasa tidur menjadi kurang nyenyak setelah mengonsumsi vitamin D di malam hari, jam minum bisa digeser ke pagi atau siang hari. Namun jika tidak ada keluhan, vitamin D tetap bisa diminum kapan saja sesuai rekomendasi tenaga medis. Kunci utamanya terletak pada konsistensi jadwal konsumsi.
Imbangi dengan Makanan Berlemak Sehat
Selain faktor waktu, teknik mengonsumsi vitamin D juga memegang peranan penting. Karena sifatnya yang larut dalam lemak, proses penyerapan vitamin D di dalam tubuh akan lebih optimal jika dikonsumsi bersamaan dengan makanan yang mengandung lemak sehat.
Beberapa jenis makanan penyokong yang disarankan antara lain telur, alpukat, ikan salmon, kacang-kacangan, hingga olahan yang memanfaatkan minyak zaitun.
Minum vitamin D saat sarapan atau makan siang menjadi langkah praktis untuk membangun rutinitas konsumsi suplemen secara disiplin.
Hindari Konsumsi Sembarangan
Meskipun berpotensi memperbaiki kualitas istirahat, suplemen vitamin D bukanlah obat utama untuk mengatai insomnia atau gangguan tidur kronis lainnya. Masalah tidur dipicu oleh banyak faktor sehingga akar penyebabnya harus dipastikan terlebih dahulu.
Sebelum memutuskan mengonsumsi suplemen vitamin D, khususnya dalam dosis tinggi, sangat disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter. Kebutuhan dosis tiap orang berbeda-beda tergantung usia, kondisi fisik, pola makan, tingkat paparan sinar matahari, serta kadar vitamin D yang tersimpan di dalam tubuh.
Menjaga tingkat kecukupan vitamin D memang menjadi salah satu cara menyokong istirahat yang berkualitas. Namun, menerapkan pola hidup sehat, mematuhi jadwal tidur yang teratur, dan menciptakan suasana kamar yang nyaman tetap menjadi faktor utama untuk mendapatkan tidur yang optimal.
Editor : Ilmidza