Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Eratkan Persahabatan lewat Usaha Kuliner Jejepangan

Nasya Rahaya • Minggu, 4 Agustus 2024 | 06:35 WIB
Andi Esse Nur Ana dan Agnes Trianingtyas menjalin perhabatan sudah dua dekade lamanya. Melalui Agathiz mereka pererat persahabatan itu.
Andi Esse Nur Ana dan Agnes Trianingtyas menjalin perhabatan sudah dua dekade lamanya. Melalui Agathiz mereka pererat persahabatan itu.

 

KALTIMPOST.ID, Di tengah hiruk pikuk kehidupan kota Samarinda, dua sahabat, Agnes Trianingtyas dan Andi Esse Nur Ana membuktikan bahwa pertemanan sejati bisa jadi fondasi yang kokoh untuk kesuksesan bisnis kuliner.

Dua dekade telah berlalu sejak mereka pertama kali bertemu dan kini mereka berbagi kesuksesan dengan Agathiz, sebuah usaha kuliner yang mengusung konsep jejepangan.

AGATHIZ adalah jawaban bagi para pecinta makanan Jepang di Samarinda. Dengan menu yang beragam seperti sushi, mentai, takoyaki dan dimsum, Agathiz menghadirkan cita rasa Jepang yang otentik namun tetap ramah di lidah lokal.

Perjalanan mereka dalam dunia kuliner dimulai lebih sederhana. Pada 2011, Agnes dan Esse merintis bisnis dessert dengan konsep cake in jar, berkeliling dari mobil ke mobil di berbagai event.

"Alhamdulillah, dari situ kami belajar banyak tentang pasar dan selera," ungkap Agnes.

Awal mula Agathiz pada 2012 terinspirasi dari kecintaan mereka terhadap kuliner Jepang.

"Kami menyadari bahwa sushi yang ada saat itu di Samarinda banyak yang menggunakan salmon atau isian yang mentah. Jadi, kami memutuskan untuk menyajikan sushi matang yang lebih cocok untuk lidah masyarakat dan juga lebih halal," jelas Agnes.

Inovasi ini terbukti sukses, mengingat banyak orang pada waktu itu merasa khawatir tentang sushi mentah, terutama bagi ibu hamil dan anak-anak.

Peluncuran perdana Agathiz Sushi dilakukan di Wisata Belanja (Wisbel) Kaltim, sebuah pasar mingguan di lapangan parkir GOR Kadrie Oening, Samarinda.

Di sinilah mereka memperkenalkan sushi yang dibuat langsung di tempat, memungkinkan pengunjung untuk menyaksikan proses pembuatan.

Antusiasme yang tinggi dari pengunjung menunjukkan bahwa konsep ini diterima dengan baik oleh masyarakat.

Agar usaha ini berjalan lancar, embagian tugas cukup jelas. Agnes bertanggung jawab pada pengembangan produk dan produksi, sementara Esse fokus pada persiapan bahan, desain, dan kemasan.

Dengan latar belakang pengalaman Agnes sebagai asisten dapur di restoran Jepang, kualitas saus dan rasa sushi Agathiz menjadi salah satu keunggulan yang mereka tawarkan.

Seiring berjalannya waktu, mereka memperluas menu dengan menambahkan takoyaki, inari, mentai, dan dimsum, tetap dengan tema makanan Jepang namun dengan sentuhan lokal.

"Kami selalu mencoba menyeimbangkan antara otentisitas Jepang dan selera Indonesia," kata Agnes.

Kehadiran Agathiz tidak hanya terbatas di Samarinda. Berkat keikutsertaan mereka di berbagai acara dan event, termasuk Wisbel, Agathiz mulai dikenal di luar kota, termasuk di Kubar dan Balikpapan.

Platform penjualan mereka pun telah berkembang dari waktu ke waktu melalui BBM, Facebook, Path, hingga Instagram, hingga sekarang merambah layanan pesan antar seperti Grab dan Gojek.

Pada tahun 2018, mereka sempat membuka booth di Robinson, namun harus menutupnya akibat pandemi pada 2019.

Tidak menyerah, mereka kemudian pindah ke Jalan Dr Sutomo dan meski lokasi tersebut tidak bertahan lama karena beberapa pernah diterpa banjir sehingga kulkas mereka rusak.

Tidak ingin mengambil resiko lebih mereka akhirnya pindah menemukan tempat yang tepat yakni di teras rumah Esse di Jalan Rajawali Dalam, Sungai Pinang, Samarinda, mereka hanya melayani take away.

Kini, Agathiz tidak hanya menyediakan berbagai pilihan menu seperti hampers dan sushi untuk acara ulang tahun, tetapi juga telah merambah ke catering nikahan, melayani acara di hotel-hotel terkemuka seperti Hotel Mesra dan Islamic Center.

Baca Juga: Soal Penolakan Kotak Kosong di Pilgub Kaltim, Seno Aji : Itu Sudah Diatur Undang-Undang

Ke depan mereka ingin mengembangkan berbagai variant makanan yang lebih lengkap lagi tetap dengan konsep jejepangan.

“Kami juga ingin punya tempat yang bisa dine in. Ini masih kami usahakan semoga dalam waktu dekat bisa terlaksana,” ungkapnya.

Dalam perjalanannya Agnes dan Esse tetap menjalankan usaha mereka dengan sepenuh hati, meski harus membagi waktu antara kuliah, pekerjaan, dan kehidupan pribadi.

Sebagaimana Agnes dan Andi tunjukkan, tidak hanya bisnis yang berkembang, tetapi juga pertemanan yang semakin erat, menjadi salah satu cita rasa terbaik dalam perjalanan usaha yang mereka kerjakan. (ndu)

 

Editor : Dwi Puspitarini
#makanan jepang #usaha kuliner #persahabatan