KALTIMPOST.ID, Provinsi Kalimantan Timur, ditinggali oleh mayoritas masyarakat pendatang. Mulai dari suku Jawa, Bugis, hingga Banjar, membaur menjadi satu bersama suku Kutai dan Dayak sebagai suku asli.
Keberagaman etnis tersebut turut berpengaruh pada kuliner khas Kaltim, yang kebanyakan dari berbagai suku budaya tersebut. Misalnya saja kuliner gorengan bernama Sanggar Cempedak, dari kebudayaan Banjar, Kalimantan Selatan.
Aroma manis yang khas langsung menguar saat potongan buah cempedak bertemu minyak panas, menciptakan sebuah camilan legendaris khas Banjar yang begitu melekat jadi favorit kebanyakan warga di Kaltim. Terutama Samarinda dan Balikpapan.
Perpaduan rasa manis legit dari buah yang lumer di mulut dengan gurihnya adonan tepung renyah inilah yang membuat jajanan sederhana ini begitu istimewa dan selalu dirindukan. Yuk kenali lebih lanjut!
Cita Rasa Unik dari Buah Cempedak
Sanggar Cempedak adalah olahan buah cempedak matang yang dibalut adonan tepung lalu digoreng hingga keemasan.
Bagi yang belum kenal, cempedak adalah buah tropis yang masih bersaudara dengan nangka, namun dengan aroma yang lebih tajam dan rasa yang lebih manis. Di Samarinda, ia akrab disapa "tiwadak".
Saat digigit, lapisan luarnya pecah dengan bunyi 'kriuk' yang renyah, memperlihatkan daging buah cempedak yang lembut dan lumer di mulut.
Rasanya manis legit, dengan sedikit sentuhan rasa mirip madu, meninggalkan jejak aroma wangi yang menyenangkan.
Sederhana Dibuat, Nikmat Disantap Kapan Saja
Proses pembuatan Sanggar Cempedak cukup sederhana, menjadikannya camilan andalan di banyak rumah.
Baca Juga: Nggak Semua Salad Itu Sehat: Yuk Kenali Pola Makan yang Benar
- Bahan utama: Buah cempedak matang yang sudah dipisahkan dari bijinya.
- Adonan: Campuran tepung terigu, sedikit tepung beras, gula, garam, dan terkadang santan untuk rasa yang lebih gurih.
- Proses: Cempedak dicelupkan ke dalam adonan, lalu digoreng dalam minyak panas hingga renyah dan berwarna keemasan.
Jajanan ini paling nikmat disantap selagi hangat, menjadi teman sempurna untuk secangkir teh atau kopi di sore hari.
Terlebih saat musim hujan, kehangatan dan rasa manisnya mampu membawa kenyamanan tersendiri.
Warisan Kuliner yang Terus Melekat
Baca Juga: Ngadem dari Panasnya Politik dengan Segarnya 5 Minuman di Samarinda
Meski sangat populer di kalangan masyarakat Banjar, asal-usul pastinya belum terdokumentasi secara tertulis. Kata "sanggar" sendiri dalam bahasa Banjar berarti gorengan, sehingga "Sanggar Tiwadak" secara harfiah berarti gorengan cempedak.
Kehadirannya yang kuat di Kalimantan Timur bukan hanya soal rasa, tetapi juga bukti eratnya hubungan budaya antara kedua wilayah.
Lebih dari sekadar gorengan, Sanggar Cempedak adalah bagian dari warisan kuliner hangat yang terus dinikmati dari generasi ke generasi. Kalau kamu, suka makan sanggar cempedak juga? (*)
Editor : Almasrifah