SAMARINDA – Matahari pagi baru saja meninggi di ufuk timur saat riuh rendah klakson speed boat mulai bersahutan di Dermaga Pariwisata Sungai Kunjang, Samarinda. Di antara deretan kapal kayu berukuran besar, beberapa unit speed boat bermesin ganda tampak bersiap membelah ketenangan Sungai Mahakam. Rabu (13/5/2026) tepat pukul 09.00 WITA, perjalanan menyusuri perairan Kalimantan Timur menuju Melak, Kutai Barat, dimulai.
Sebelum mesin menderu, atmosfer di dermaga mendadak serius. Petugas Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Samarinda naik ke atas kabin. Dengan nada tegas namun ramah, mereka memastikan 27 penumpang yang memadati kursi speed boat mematuhi protokol keselamatan.
"Kami ingatkan kembali, keselamatan adalah prioritas. Mohon rompi pelampung (life jacket) dikenakan secara benar dan tetap dipakai selama perjalanan," ujar salah satu petugas sembari mengecek manifest. Tanpa bantahan, para penumpang, mulai dari pedagang, pegawai, karyawan swasta, hingga warga yang hendak pulang kampung, segera mengaitkan tali rompi oranye mereka. Kesadaran akan keselamatan di jalur perairan kini menjadi standar utama bagi para pelintas sungai Mahakam.
Tiga jam pertama dilewati dengan pemandangan vegetasi riparian yang rimbun dan rumah rakit (lanting) yang sesekali bergoyang terkena ombak kapal. Sekitar pukul 12.00 WITA, moncong speed boat merapat dengan mulus di dermaga Kota Bangun, Kutai Kartanegara.
Berhenti di sini adalah rutinitas wajib yang krusial untuk, Istirahat Makan, penumpang turun untuk makan siang, mengisi tenaga di rumah makan rakit yang ada di beberapa titik di Kota Bangun. Sedangkan Motoris speed boat, melakukan pengisian bahan bakar, awak speed memastikan pasokan bahan bakar aman untuk sisa perjalanan menuju Melak.
Peregangan, jeda satu jam ini menjadi momen berharga bagi penumpang untuk menghirup udara segar dan meluruskan kaki setelah duduk di ruang kabin. Setelah satu jam berselang, perjalanan berlanjut. Mesin kembali menderu, meninggalkan riak putih yang memanjang di belakang. Perjalanan dari Kota Bangun menuju Melak menyuguhkan bentang alam yang lebih luas, di mana air sungai tampak tenang namun menghanyutkan.
Bagi sebagian orang, menempuh jalur sungai dengan kecepatan tinggi adalah cara terbaik menghindari kelelahan di jalur darat. Hal ini diamini oleh Yohanes, salah satu penumpang yang rutin melintasi rute ini. "Saya memilih menggunakan speedboat, cepat sampainya. Kalau lewat sungai kita tidak perlu khawatir dengan kemacetan atau kondisi jalan yang tidak menentu, biaya juga hampir sama, Rp 500 ribu satu tiket, " ungkap Yohanes singkat.
Sekitar pukul 15.00 WITA, atau total enam jam perjalanan termasuk transit, bayangan tiang pilon jembatan Aji Tulur Jejangkat (ATJ) mulai nampak di kejauhan menandakan dermaga Melak, tak jauh lagi. Perjalanan ini kembali membuktikan bahwa bagi masyarakat Kutai Barat, Sungai Mahakam tetap menjadi "jalan tol" alami yang paling efisien untuk menghubungkan mereka dengan ibu kota provinsi. (riz)
Editor : Muhammad Rizki