SENDAWAR – Upaya peningkatan konektivitas di wilayah perbatasan Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah menunjukkan progres signifikan. Proyek Preservasi Jalan Sp Blusuh – Batas Kalteng kini memasuki babak baru setelah pekerjaan galian pelebaran tebing di ruas Gunung Odang dinyatakan rampung sepenuhnya. Tuntasnya tahapan krusial ini menjadi angin segar bagi pengguna jalan. Jalur yang selama ini dikenal menantang karena topografi tebingnya, kini jauh lebih lapang dan siap bertransformasi menjadi jalur logistik yang lebih aman.
"Pekerjaan galian di Gunung Odang bukan sekadar urusan memotong bukit. Langkah ini diambil sebagai solusi teknis untuk memangkas titik rawan kecelakaan sekaligus menjaga stabilitas lereng (tebing) di sepanjang jalur tersebut, " ungkap Kabag Teknik PT Bumi Karsa, Lalu Syamsul Watoni, Kamis (21/5/2026).
Dengan selesainya galian ini, badan jalan kini memiliki ruang bebas yang ideal. Pengendara yang melintas nantinya akan mendapatkan jarak pandang yang lebih baik, sekaligus meminimalisasi risiko longsoran material tebing yang kerap mengintai saat intensitas hujan tinggi.
Baca Juga: Antisipasi Risiko Limbah Industri, Pemkab Kubar Gelar Simulasi Penanganan Kebocoran B3
Saat ini, kondisi di lapangan sudah memasuki tahap persiapan konstruksi lanjutan. Ruas Sp Blusuh – Batas Kalteng merupakan urat nadi perekonomian lintas provinsi. Peningkatan kapasitas jalan ini diproyeksikan mampu memangkas waktu tempuh distribusi logistik secara signifikan.
BBPJN Kaltim, melalui PPK 1.9, Joko Sidik, kini pengerjaan langsung dialihkan ke sektor krusial lainnya, yaitu sistem pembuangan air. Berikut adalah tahapan pekerjaan yang sedang dan akan segera bergulir di lapangan, Pembangunan Saluran Drainase, langkah ini dikebut untuk memastikan aliran air permukaan (hujan) tidak menggenang di badan jalan. Drainase yang mapan adalah kunci utama agar umur pakai jalan bisa bertahan lama.
Pekerjaan Lapis Pondasi Agregat (LPA), begitu sistem drainase rampung, struktur dasar jalan akan diperkuat menggunakan LPA. Tahapan ini berfungsi memperkuat daya dukung tanah sebelum menerima beban yang lebih berat. Meningkatnya intensitas kendaraan dengan tonase besar yang melintasi jalur ini membuat pilihan jatuh pada penggunaan rigid pavement atau perkerasan beton semen sebagai sentuhan akhir.
Metode perkerasan rigid ini dinilai paling ideal untuk karakteristik tanah dan beban kerja jalan di wilayah tersebut. Dibandingkan dengan aspal biasa, cor beton memiliki daya tahan yang jauh lebih tinggi terhadap tekanan kendaraan berat serta meminimalisasi biaya perawatan jangka panjang.
Melalui percepatan yang terus berjalan sesuai timeline, proyek preservasi ini diharapkan dapat segera rampung seutuhnya. Dampak positifnya jelas, mobilitas masyarakat lokal akan lebih produktif, distribusi logistik antarprovinsi menjadi lebih lancar, dan ketertinggalan infrastruktur di kawasan perbatasan dapat segera teratasi. (riz)
Editor : Muhammad Rizki