Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Dinilai Punya Dedikasi Pelestarian Budaya, Ismail Thomas Dianugerahi Penghargaan Naga Sasra  

Sunardi Kaltim Post • Minggu, 24 Mei 2026 | 12:47 WIB
Tokoh pelestari budaya, Ismael Thomas (dua kanan) saat menerima penghargaan dari Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Fadli Zon (dua kiri) di Museum Pusaka TMII, Jakarta. (K.SUNARDI/KP)

 
Tokoh pelestari budaya, Ismael Thomas (dua kanan) saat menerima penghargaan dari Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Fadli Zon (dua kiri) di Museum Pusaka TMII, Jakarta. (K.SUNARDI/KP)  
  

JAKARTA - Upaya menjaga kelestarian adat dan warisan nusantara terus mendapat ruang apresiasi yang tinggi di tengah masyarakat. Dalam momentum penuh khidmat, tokoh masyarakat Kutai Barat Ismail Thomas secara resmi dianugerahi Anugerah Naga Sasra, oleh Kementerian Kebudayaan RI, melalui Award SNKI.

Penghargaan itu diberikan atas kontribusi nyata dalam mendukung eksistensi ekosistem budaya lokal. Ketua Paguyuban Tosan Aji Pinang Sendawar, Waluyo Dwi Atmojo Setiobroto, menegaskan bahwa esensi dari merawat benda-benda bersejarah atau tosan aji jauh melampaui sekadar menjaga fisik barang tersebut.

Menurutnya, ada nilai tak berwujud (intangible value) yang dipertaruhkan jika generasi masa kini abai terhadap warisan leluhur. "Ketika pusaka dilestarikan, yang sesungguhnya dijaga bukan hanya bendanya, melainkan ingatan kolektif, jati diri, dan akar budaya bangsa agar tidak hilang ditelan zaman," ujar Waluyo.

Baca Juga: Sukses Gelar Pemuda Fest 2026, Disporapar Paser Wadahi Kreativitas Generasi Muda dan Dorong Geliat Ekonomi Kreatif

Ia menekankan pentingnya sinergi seluruh elemen masyarakat. Penghargaan Naga Sasra tidak diberikan kepada sembarang tokoh. Apresiasi ini secara khusus dirancang untuk menghormati individu atau institusi yang dinilai memberikan dampak masif terhadap kelangsungan ruang ekspresi kebudayaan.

Mantan Bupati Kutai Barat, Ismail Thomas dinilai sangat layak menerima penghargaan ini karena terbukti memenuhi kriteria penting, di antaranya.

Konsisten memberikan wadah yang luas bagi para pelaku seni, budayawan, dan pelestari tradisi untuk mengeksplorasi karya mereka, dan menghadirkan sokongan kuat, baik melalui pengaruh institusional maupun kebijakan strategis yang berpihak pada kearifan lokal.

Serta mampu memicu kesadaran dan keterlibatan aktif masyarakat untuk ikut serta merawat tradisi. Selain itu, menjadi pilar penting di balik kesuksesan berbagai gelaran kebudayaan berskala besar yang membawa dampak ekonomi dan sosial yang positif.

Baca Juga: Formasi Guru SD Paling Banyak Dibuka di Rekrutmen Guru Pengganti Bontang 2026  

Mendapatkan kehormatan menerima penghargaan, Ismael Thomas menyampaikan rasa hormat yang mendalam atas apresiasi tersebut. Bagi dirinya, kebudayaan bukan sekadar warisan masa lalu yang statis, melainkan kompas penentu arah bagi masa depan generasi penerus.

"Budaya adalah kemudi sebuah peradaban. Jika kita membiarkan Mandau dan tradisi leluhur kita punah, kita sedang menghapus jejak sejarah kita sendiri di masa depan," ungkap Ismael Thomas kepada Kaltim Post, Minggu (24/5/2026).

Meski bersyukur atas penghargaan yang diterima, Ismael tidak menampik adanya tantangan krusial yang dihadapi dunia kebudayaan saat ini. Di tengah pesatnya perkembangan zaman dan arus modernisasi, ia melihat kepedulian generasi muda terhadap nilai-nilai kebudayaan lokal masih sangat minim.

Kondisi ini terlihat jelas pada mulai berkurangnya minat pemuda dalam mendalami seni pembuatan Mandau—sebuah proses kompleks yang membutuhkan keahlian tinggi, mulai dari teknik menempa bilah besi hingga seni ukir.

Guna menjawab tantangan tersebut dan memastikan api pelestarian tetap menyala, Ismael Thomas telah menyiapkan rencana strategis ke depan. Ia berkomitmen penuh untuk membangun sebuah wadah khusus yang representatif bagi para pelaku seni tradisi di Kutai Barat.

Wadah ini dirancang untuk menampung para pande besi (penempa), pengrajin sarung (kumpang), hingga pembuat hulu (gagang) Mandau agar dapat bekerja dan berkreasi secara terintegrasi.

"Kita akan manfaatkan space di bawah enam Lamin yang ada di Taman Budaya Sendawar sebagai basecamp utama," jelas Ismael.

Melalui pusat kegiatan tersebut, Ismael berencana menggelar program pelatihan dan bimbingan teknis secara berkala. Program ini sengaja dihadirkan untuk memberikan pembekalan serta mendorong agar generasi muda Kutai Barat kembali tertarik dan mau berpartisipasi aktif dalam melestarikan seni pembuatan Mandau.

Sebagai informasi, Anugerah Naga Sasra sendiri merupakan apresiasi khusus bagi pihak-pihak yang dinilai konsisten memberikan perlindungan serta ruang ekspresi yang masif bagi kebudayaan nusantara.

Melalui dukungan kebijakan dan tindakan nyata seperti yang ditunjukkan oleh Ismael Thomas, ekosistem budaya diharapkan mampu memicu partisipasi publik yang lebih luas serta sukses menggerakkan kegiatan-kegiatan pelestarian berskala besar di masa mendatang. (*)

Editor : Sukri Sikki
#Ismael Thomas #Kementerian Kebudayaan #fadli zon #penghargaan