Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kubar Robertus Leopold Bandarsyah mengatakan, kondisi tersebut didominasi parameter partikulat halus PM2.5 yang berada pada level kritis. “Tingkat kualitas udara yang buruk ini dinilai dapat merugikan kesehatan secara serius pada populasi serta memerlukan penanganan yang cepat,” tegas Robertus.
Selain PM2.5, sejumlah parameter polutan lain turut terpantau dalam pemantauan kualitas udara. PM10 tercatat 123 atau masuk kategori tidak sehat. Sementara karbon monoksida (CO) berada di angka 7, ozon (O3) 7, nitrogen dioksida (NO2) 4, sulfur dioksida (SO2) 3, dan hidrokarbon 2.
Baca Juga: Turap Berusia 30 Tahun Bergerak, Pemkot Hentikan Pekerjaan Teras Samarinda II Segmen I
Kondisi tersebut menunjukkan persoalan kualitas udara di Sendawar belum sepenuhnya mereda meski secara kasatmata kabut asap tidak setebal beberapa hari sebelumnya. Pada saat pengukuran, kondisi cuaca di Sendawar tercatat dengan suhu 26 derajat Celsius, kelembapan 79 persen, dan tekanan udara 1.080 mBar.
Dengan kualitas udara yang berada pada kategori berbahaya, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan, terutama kelompok yang rentan terhadap paparan polusi udara. DLH mengimbau masyarakat membatasi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker untuk mengurangi paparan polutan.
Kondisi udara tersebut juga menjadi perhatian di tengah meningkatnya kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kubar. Asap hasil pembakaran dapat meningkatkan konsentrasi partikulat di udara, terutama ketika kondisi cuaca dan angin tidak mendukung penyebaran polutan. Karena itu, masyarakat diminta terus memantau perkembangan kualitas udara sebelum melakukan aktivitas di luar rumah.
Secara visual, kabut asap yang menyelimuti Sendawar memang disebut tidak terlalu pekat dibandingkan beberapa hari sebelumnya. Namun, angka ISPU menunjukkan kualitas udara belum aman.
Kondisi ini membuat masyarakat tidak disarankan menjadikan jarak pandang atau ketebalan asap sebagai satu-satunya indikator keamanan udara. Pemantauan kualitas udara tetap diperlukan karena konsentrasi polutan dapat berubah mengikuti arah angin, kondisi cuaca, serta aktivitas kebakaran di wilayah sekitar. (riz)
Editor : Muhammad Rizki