Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Diarpus Kukar Optimalkan Aplikasi Srikandi: Tiga OPD Dinilai Paling Aktif

M Hafiz Alfaruqi • Kamis, 16 Oktober 2025 | 16:47 WIB

 

Plt Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kukar, Rinda Desianti memaparkan capaian penggunaan aplikasi Srikandi.
Plt Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kukar, Rinda Desianti memaparkan capaian penggunaan aplikasi Srikandi.
 

TENGGARONG - Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Diarpus) Kutai Kartanegara (Kukar) terus memperkuat transformasi digital dalam tata kelola pemerintahan. Langkah ini diwujudkan melalui Rapat Koordinasi Optimalisasi Aplikasi Sistem Informasi Kearsipan Terintegrasi (Srikandi) dan Anugerah Literasi Kukar 2025 yang digelar di Pendopo Odah Etam, Kamis (16/10).

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Diarpus Kukar, Rinda Desianti menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari Peraturan Presiden Nomor 95 Tahun 2018 tentang Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE) dan Keputusan Menteri PANRB Nomor 679 Tahun 2020 tentang aplikasi umum bidang kearsipan.

“Aplikasi Srikandi ditetapkan sebagai sistem umum kearsipan dinamis untuk mewujudkan tata kelola pemerintahan yang bersih, efektif, transparan, dan akuntabel,” ujarnya, Kamis (16/10).

Meski demikian, Rinda mengakui masih ada beberapa perangkat daerah yang belum maksimal dalam penggunaan aplikasi tersebut. Dari 59 OPD dan kecamatan, tiga OPD tercatat paling aktif, yakni Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (12.393 naskah keluar), Sekretariat Daerah (6.973 naskah keluar), dan Dinas Kominfo (5.967 naskah keluar).

Sementara itu, tiga OPD dengan tingkat penggunaan terendah adalah BPPD (47 naskah), Dinas Kelautan dan Perikanan (35 naskah), serta DLHK (16 naskah). “Jumlah naskah keluar ini menunjukkan keaktifan penciptaan arsip di masing-masing OPD,” jelasnya.

Untuk tingkat kecamatan, Muara Badak menempati posisi pertama dengan 2.711 naskah keluar, disusul Sebulu (2.335 naskah) dan Kota Bangun (1.448 naskah). Sedangkan Kembang Janggut, Muara Kaman, Muara Muntai, dan Samboja tercatat belum pernah menggunakan aplikasi Srikandi sama sekali.

Rinda juga mengungkapkan bahwa pihaknya akan melakukan penyesuaian fitur disposisi pada aplikasi agar lebih fleksibel dan sesuai kebutuhan tiap OPD. “Kami sudah berdiskusi dan minggu depan rencananya sistem disposisi Srikandi akan diperbarui agar lebih efisien,” terangnya.

Selain membahas kearsipan, kegiatan tersebut juga dirangkai dengan Anugerah Literasi Kutai Kartanegara 2025 sebagai bentuk apresiasi kepada individu, lembaga, maupun komunitas yang berkontribusi dalam meningkatkan budaya baca dan literasi masyarakat.

Rinda menuturkan, tingkat literasi masyarakat Kukar masih perlu ditingkatkan. “Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat dan Tingkat Gemar Membaca kita masih rendah. Karena itu, literasi harus menjadi bagian penting dari proses edukasi dan pembelajaran,” ucapnya.

Ia menambahkan, Diarpus Kukar kini tengah mengembangkan Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS), yang menempatkan perpustakaan sebagai pusat riset dan aktivitas masyarakat. “Kita ingin perpustakaan tidak hanya tempat membaca, tetapi juga pusat belajar dan kolaborasi antar-OPD,” kata dia.

Rinda juga menyampaikan bahwa pihaknya telah mendaftarkan prasasti Yupa dari Muara Kaman ke UNESCO sebagai bagian dari program Memory of the World (MOW). “Ada tujuh prasasti yang ditemukan tahun 1879 di Bukit Brubus, Muara Kaman. Kami mohon dukungan agar Yupa bisa ditetapkan sebagai warisan dunia yang dilindungi PBB,” harapnya.

Rencananya, Festival Budaya Memory of Yupa akan digelar setelah Hari Pahlawan, sekitar 14 November 2025, sebagai bagian dari upaya memperkuat pengakuan tersebut. “Kami berharap dukungan penuh dari Bupati, Sekda, dan seluruh OPD agar Yupa menjadi memori penting bangsa,” pungkasnya. (*)

Editor : Sukri Sikki
#Diarpus Kukar #Pendopo Odah Etam #pemkab kukar #Aplikasi Srikandi