KALTIMPOST.ID, KEDANG IPIL - Akses jalan menuju Desa Kedang Ipil, Kecamatan Kota Bangun Darat, Kutai Kartanegara, mendapat pujian dari Peneliti Ahli Madya Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Rahmawati, menilai kondisi infrastruktur jalan ke desa itu cukup baik dibanding wilayah lain yang pernah didatangi timnya.
“Selama di Kedang Ipil, kami melihat akses jalan sudah cukup baik dibandingkan beberapa wilayah lain yang pernah kami kunjungi,” kata Rahmawati di Kedang Ipil, Kamis, 24 April 2026.
Rahmawati bersama tim BRIN kawasan kerja Makassar sedang mengumpulkan data untuk riset tahun kedua tentang kearifan ekologis dalam leksikon bahasa daerah multietnik di Kalimantan Timur. “Kami dari BRIN datang untuk melaksanakan riset terkait kearifan ekologis dalam leksikon bahasa daerah multietnik di Kalimantan Timur,” ujarnya.
Menurut dia, tahun pertama riset dilakukan di Penajam Paser Utara untuk bahasa Paser. Tahun ini dilanjutkan di Kutai Kartanegara dengan fokus bahasa Kutai. “Riset ini berfokus pada kosakata yang berkaitan dengan lingkungan, termasuk yang terhubung dengan praktik adat dan kehidupan masyarakat,” kata Rahmawati.
Baca Juga: Heboh Kenaikan dan Rapel Gaji Pensiunan PNS 2026 Dibahas, Taspen: Tunggu Dulu…
Ia berharap hasil riset menjadi rekomendasi pengembangan kawasan, termasuk industri dan Ibu Kota Nusantara, tanpa mengabaikan aspek ekologis dan kearifan lokal. “Harapannya, pengembangan wilayah ke depan tetap memperhatikan kelestarian lingkungan dan menjaga warisan budaya yang ada di masyarakat,” tuturnya.
“Kalimantan Timur bisa berkembang menjadi wilayah modern tanpa meninggalkan nilai-nilai budaya dan kearifan lokal,” Rahmawati menambahkan.
Selain jalan, Rahmawati mengapresiasi sambutan warga Kedang Ipil. “Kami juga merasakan sambutan masyarakat yang sangat terbuka, baik dari warga, aparat desa, maupun tokoh adat,” ucapnya.
Tim BRIN juga mengamati tradisi Nutuk Beham di desa tersebut. Rahmawati menilai ritual itu berpotensi jadi daya tarik wisata. “Secara khusus, kegiatan Nutuk Beham ini menurut kami sangat menarik dan berpotensi menjadi daya tarik bagi masyarakat luas maupun wisatawan,” katanya.
Ia menyebut Nutuk Beham menunjukkan kebersamaan warga sejak persiapan hingga pelaksanaan ritual. “Masyarakat juga sangat terbuka menerima tamu, menjamu dengan baik, serta menunjukkan nilai gotong royong yang kuat dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Rahmawati.
Dari pengamatan awal, tim BRIN mencatat keluhan warga soal pengembangan industri. Warga menilai industri mengurangi lahan pertanian dan menurunkan populasi satwa di sekitar desa. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo