KALTIMPOST.ID, SANGATTA – Dalam peringatan Hari Kartini tahun 2025, Yuliana Wetuq, perempuan adat dari Kutai Timur, menerima penghargaan sebagai sosok inspiratif atas dedikasinya dalam menjaga kelestarian Hutan Lindung Wehea sejak tahun 2008.
Yuliana merupakan koordinator Meheuy, tim patroli hutan lindung wehea yang terdiri dari sepuluh orang, di mana ia menjadi satu-satunya perempuan. Di tengah dominasi laki-laki dan minimnya dukungan pemerintah, ia tetap teguh memimpin upaya pelestarian hutan yang terancam oleh pembalakan liar, perburuan satwa, dan ekspansi perkebunan sawit.
“Awalnya iya. Tetapi saya tidak memikirkan hal yang seperti itu. Yang penting saya bisa melindungi hutan untuk orang bukan hanya untuk dunia itu yang yang saya pikirkan,” kata Yuliana saat ditemui usai menerima penghargaan.
Ia menjelaskan bahwa Hutan Adat Wehea tidak hanya penting bagi lingkungan, tetapi juga berperan vital bagi masyarakat adat yang menggantungkan hidup pada hasil hutan untuk kebutuhan budaya dan ritual.
Tim Meheuy rutin melakukan patroli, pencatatan pertumbuhan flora dan satwa, serta memberlakukan sanksi adat bagi pelanggaran yang terjadi di wilayah lindung.
Meski sebagian pelanggar diberi denda adat, Yuliana menyebut pihaknya tak segan melibatkan aparat kepolisian dalam kasus yang berat.
“Selama mereka masih bisa diajak kerja sama, kita kasih denda adat. Tetapi selama mereka tidak mau diajak kerja sama, kita ke kepolisian gitu," ujarnya.
Penghargaan yang diterimanya kali ini bukan yang pertama. Sebelumnya, pada 2022 ia juga ditetapkan sebagai Gender Champion atas peran pentingnya perlindungan hutan. Ia berharap pengakuan ini bisa memotivasi perempuan lain untuk terlibat aktif dalam perlindungan lingkungan dan hak adat.
“Kalau pesan saya untuk para perempuan itu, jangan berkecil hati. Tetap kerjakan apa yang apa yang menurut kita itu positif dan tidak usah patah semangat. Selalu semangat terus,” tutupnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo