Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

TPA Batota Hanya Bisa Tampung 30 Persen Residu, DLH Kutim Imbau Warga Pilah Sampah dari Rumah

Jufriadi • Minggu, 22 Juni 2025 | 18:55 WIB
TPA Batota jalan poros Sangatta-Bengalon Kutai Timur. (FOTO: IST)
TPA Batota jalan poros Sangatta-Bengalon Kutai Timur. (FOTO: IST)

KALTIMPOST.ID, SANGATTA — Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Batota di jalan poros Sangatta-Bengalon Kutai Timur (Kutim) hanya mampu menampung 30 persen dari total volume sampah harian. 

Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kutim, Dewi menegaskan bahwa kondisi ini menuntut partisipasi masyarakat dalam memilah sampah secara mandiri dari rumah.

Saat ini, kata Dewi, TPA Batota menerima sekitar 90 ton sampah setiap hari, padahal idealnya hanya sekitar 27 ton yang masuk ke TPA sebagai residu yang tidak bisa didaur ulang. 

Sisanya seharusnya dapat dikelola di tingkat rumah tangga maupun komunitas melalui sistem pemilahan dan pengolahan sampah organik dan anorganik.

"Kita harus mampu mengurangi 70% dari sampah yang kita hasilkan. Jadi, TPA kita itu hanya boleh menerima 30% residu saja. Nah, kalau plastik, kardus, terus sisa makanan ini kan sudah bernilai. Saya kira kalau yang penting memilah, kemudian sisa makanannya saya yakin sudah banyak peminatnya," ujar Dewi.

DLH mencatat, sekitar 50 persen dari total sampah di Kutim berasal dari wilayah Sangatta Utara dan Sangatta Selatan. Oleh karena itu, pemerintah berfokus mempercepat pembangunan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) di dua kecamatan tersebut. Target tahun ini adalah menyelesaikan pengadaan lahan.

Pemerintah juga tengah mempersiapkan program pendampingan di tingkat RT untuk mendukung gerakan pilah sampah dari rumah. Dalam tahap awal, desa akan memilih tiga RT yang dinilai paling siap untuk dibina.

"Karena sesuai dengan regulasi itu kan tanggung jawab pengelolaan sampah itu kan tanggung jawab penghasil. Dan pemerintah yang paling bawah yang memiliki masyarakat itu kan RT," lanjutnya.

Ia juga menekankan bahwa jika masyarakat rutin memilah, maka potensi daur ulang bisa sangat besar. Sampah organik dari restoran dan rumah makan bahkan sudah menjadi rebutan para peternak dan pengusaha budidaya maggot karena bisa dimanfaatkan sebagai pakan.

"Kalau sudah dipilah, limbah sisa makanan saja jadi rebutan. Maggot center kita bahkan kekurangan pakan. Begitu juga bank sampah, mereka siap menjemput dan membeli sampah plastik yang bernilai ekonomis," tuturnya.

DLH berharap media massa dan masyarakat luas ikut mengampanyekan perubahan pola pikir, dari sekadar buang sampah di tempatnya menjadi pilah sampah dari rumah. 

Editor : Uways Alqadrie
#DLH Kutai Timur #Pemkab Kutai Timur