KALTIMPOST.ID, SANGATTA - Kondisi jalan yang rusak kerap menjadi masalah serius bagi masyarakat perkotaan maupun perdesaan.
Ketika kerusakan tak segera ditangani, warga bisa mengambil tindakan sendiri untuk memastikan keselamatan dan aksesibilitas tetap terjaga.
Di Kutai Timur, warga Singa Geweh, Kecamatan Sangatta Selatan, menunjukkan protes unik terhadap lambannya perbaikan jalan.
Baca Juga: Lonjakan Impor Nonmigas Kaltim Oktober 2025, Tiongkok Masih Mendominasi
Mereka menutup Jalan Pertanian di RT 26 dengan menanam pohon pisang tepat di badan jalan sebagai bentuk kekecewaan.
Ketua RT 26 Kelurahan Singa Geweh, Chalvin S. Mangera, menjelaskan bahwa kerusakan jalan ini sudah terjadi sejak 2023.
Selama dua tahun terakhir, warga hanya mengandalkan gotong royong dengan menambal jalan menggunakan batu merah agar akses tidak sepenuhnya lumpuh.
“Sampai sekarang, ini sudah 2025. Belum ada penanganan dari pemerintah,” ujar Chalvin, Sabtu (6/12).
Jalan Pertanian merupakan jalur vital bagi warga untuk menuju pasar, sekolah, dan fasilitas umum lainnya.
Setidaknya terdapat 10 titik kerusakan yang dinilai berbahaya. Hampir setiap hari, warga terjatuh akibat permukaan jalan yang berlubang dan licin.
Saat Kaltim Post mengunjungi lokasi, seorang pengendara motor terlihat tersungkur setelah rodanya terperosok ke salah satu lubang. Chalvin menilai kondisi ini merupakan akibat dari kurangnya perhatian pemerintah.
Ia mengaku telah berkali-kali menyampaikan keluhan kepada pemerintah dan DPRD, namun hingga kini belum ada tindakan nyata.
Chalvin menegaskan, warga akan tetap menutup jalan tersebut sampai ada tanggapan pemerintah yang konkret.
Baca Juga: Bupati Pergi Umrah saat Warganya Dilanda Bencana, Pemerintah Pusat Turun Tangan
“Kami tutup sampai ada tanggapan dari pemerintah yang realistis untuk diterima masyarakat. Karena kami bertindak ini sebagai masyarakat,” tegas Chalvin.
Ia berharap pemerintah Kabupaten Kutim segera turun tangan sebelum kerusakan bertambah parah dan korban terus berjatuhan. “Saya tidak ingin masyarakat saya celaka setiap hari,” pungkasnya. (*)
Editor : Ery Supriyadi