KALTIMPOST.ID, SANGATTA — Ambisi Kutai Timur (Kutim) menjadi daerah dengan kandidat Sekolah Rujukan Google (KSRG) terbanyak di Indonesia belum bisa terwujud dalam waktu dekat.
Pasalnya, kebutuhan perangkat Chromebook yang menjadi syarat utama penilaian belum sepenuhnya terpenuhi di 35 sekolah dasar yang tengah disiapkan.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutim, Mulyono, menyebut sebagian besar komponen lain sudah tuntas.
Guru telah mengikuti Bimtek Google, kompetensi minimal terpenuhi, dan seluruh guru maupun siswa memiliki akun belajar. “Semuanya sudah kita selesaikan kecuali yang Chromebook,” ujarnya.
Mulyono menyebut sekolah wajib menyediakan sedikitnya 60 unit Chromebook untuk dua kelas percontohan.
Namun banyak sekolah belum memiliki jumlah yang sesuai standar. Pihaknya pun sedang menyiapkan langkah cepat, salah satunya memaksimalkan perangkat yang belum terpakai di sekolah lain.
“Masih kita akan coba aturkan. Mungkin kita sistem silang dulu lah, Chromebook yang belum termaksimalkan bisa saja dipakai untuk melengkapi dulu,” jelasnya.
Dikatakannya, mekanisme pengadaan yang tersendat di tingkat pusat turut memperlambat pemenuhan perangkat. Karena itu, Disdikbud menargetkan pemenuhan dilakukan bertahap mulai 2026, mengikuti kemampuan anggaran daerah.
“Bertahap sesuai kondisi daerah. Yang penting mulai dulu, semakin cepat semakin baik,” kata Mulyono. Jika persoalan perangkat teratasi, Kutim berpeluang mencatat rekor sebagai daerah dengan sekolah KSRG terbanyak secara nasional.
Namun untuk mencapai itu, tantangan pengadaan Chromebook menjadi pekerjaan terbesar yang harus dituntaskan. Mulyono menegaskan, penguatan literasi dasar tetap berjalan seiring percepatan digitalisasi.
“Kita tetap menjaga literasi membaca dan menulis, sambil menyiapkan pembelajaran digital. Dua-duanya harus berjalan seiring,” katanya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo