SANGATTA – Peristiwa kebakaran yang kembali terjadi di wilayah Kecamatan Batu Ampar menuai kritik dari kalangan pemuda Kutai Timur. Penanganan bencana dinilai masih belum tertata dengan baik, terutama di daerah pedalaman.
Sorotan tersebut disampaikan Muhammad Yuga, aktivis pemuda asal Kutim yang kini berkuliah di Universitas Mulawarman Samarinda. Ia menilai, kebakaran di Desa Batu Timbau pada Kamis (26/3) menjadi gambaran lemahnya kesiapan penanganan di lapangan.
Menurutnya, insiden yang menghanguskan puluhan rumah warga itu bukan kejadian baru. Ia mengingatkan, kebakaran serupa pernah terjadi pada awal 2025 dengan jumlah kerusakan yang cukup besar.
Peristiwa kebakaran besar di desa tersebut telah terjadi sebanyak dua kali. Pertama di awal tahun 2025 yang menghanguskan 100 rumah warga, kemudian di tahun ini kembali terulang dengan menghanguskan 80 lebih rumah.
Yuga menilai, kejadian berulang tersebut seharusnya menjadi bahan evaluasi menyeluruh bagi pemerintah daerah, khususnya dalam memperkuat upaya pencegahan.
“Kebakaran yang terjadi berulang kali ini mencerminkan lemahnya pengawasan serta buruknya tata kelola penanganan bencana di tingkat daerah,” ucapnya, saat di wawancarai via telpon, Sabtu (28/3).
Ia juga menyoroti kondisi armada dan kesiapan petugas saat proses pemadaman berlangsung. Menurutnya, sejumlah fasilitas tidak berfungsi optimal, bahkan ada yang mengalami kerusakan.
“Lucunya, ada petugas yang bingung teknis pemadaman, bahkan tidak paham menyalakan pompa air. Ini sangat ironis,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia menilai peningkatan kapasitas sumber daya manusia menjadi hal mendesak, selain pembenahan sarana dan prasarana pendukung.
Selain itu, Yuga mendorong adanya keterlibatan masyarakat dalam upaya pencegahan, termasuk penyediaan alat pemadam sederhana di lingkungan rumah.
“Ini bukan bencana yang terjadi tiba-tiba, tapi bukti nyata buruknya tata kelola penanganan bencana di daerah,” pungkasnya. (*)
Editor : Sukri Sikki