KALTIMPOST.ID, SANGATTA – Informasi putusnya akses jalan menuju Desa Senyiur, Kecamatan Muara Ancalong, Kutau Timur (Kutim) sempat ramai beredar dan memicu kekhawatiran masyarakat, Minggu (5/4).
Namun, pemerintah kecamatan memastikan jalur yang terdampak bukan merupakan akses utama warga. Camat Muara Ancalong, Saberan Nete, menegaskan aktivitas masyarakat tetap berjalan normal meski sempat terjadi kerusakan pada jembatan di wilayah tersebut.
“Transportasi masyarakat tidak terganggu. Jalur utama tetap aman dan bisa digunakan seperti biasa,” tegasnya saat dikonfirmasi, Senin (6/4).
Ia menjelaskan, kerusakan terjadi akibat tingginya curah hujan yang menyebabkan debit air anak sungai meningkat drastis. Arus yang deras kemudian menggerus struktur jembatan hingga tidak mampu bertahan.
Baca Juga: Aktivitas Bongkar Muat di Kaltim Menguat, Tapi Tak Merata di Semua Pelabuhan
“Curah hujan yang tinggi membuat aliran sungai menjadi deras dan menggerus jembatan. Karena konstruksinya bersifat sementara, kerusakan tidak bisa dihindari,” jelas Saberan.
Menurutnya, jembatan yang terdampak memang bukan infrastruktur permanen milik pemerintah, melainkan bangunan sementara yang lebih rentan rusak saat terjadi banjir.
Saberan juga meluruskan informasi yang beredar di media sosial yang menyebut akses utama warga terputus. Ia memastikan kondisi di lapangan tidak separah yang dibayangkan.
“Jangan sampai informasi yang tidak utuh membuat masyarakat khawatir berlebihan. Faktanya, ini hanya berdampak pada jalur tertentu, bukan akses utama warga,” ujarnya.
Baca Juga: Rawan Rebutan, Jumlah Kursi Jenjang SD dan SMP di Bontang Merosot
Ia menambahkan, jalur yang rusak hanya merupakan akses penghubung terbatas, sehingga tidak mengganggu mobilitas warga menuju pusat kecamatan maupun aktivitas ekonomi sehari-hari.
Saat ini, proses perbaikan terus dilakukan agar akses tersebut segera dapat digunakan kembali. Penanganan melibatkan sejumlah pihak, termasuk perusahaan, untuk mempercepat pemulihan jembatan.
Pemerintah kecamatan juga mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem yang masih dapat terjadi, terutama saat melintas di sekitar aliran sungai dengan debit air tinggi. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo