SANGATTA – Potensi kemarau panjang mulai diantisipasi Perusahaan Umum Daerah Air Minum (Perumdam) Tirta Tuah Benua (TTB) Kutai Timur (Kutim). Perumdam menetapkan status siaga seiring prediksi fenomena El Nino yang berlangsung hingga Oktober 2026 dan berisiko menekan ketersediaan air baku.
Langkah penguatan dilakukan dari sisi produksi. Sejumlah pompa di titik pengambilan air dioptimalkan untuk menjaga suplai tetap berjalan. Perbaikan komponen teknis juga dilakukan agar aliran air ke instalasi pengolahan bisa maksimal.
Direktur Utama Perumdam Kutim, Suparjan, menyebut saat ini tiga pompa di intake baru sudah dioperasikan untuk meningkatkan kapasitas pengambilan air.
"Saat ini, tiga unit pompa di intake baru sudah beroperasi. Masing-masing pompa memiliki daya 56 kW dan difungsikan untuk meningkatkan kemampuan pengambilan air baku," ujarnya.
Baca Juga: Warga Jempang Jalani Perawatan Intensif setelah Dikeroyok, Motif Belum Jelas
Di sisi lain, intake lama yang sempat mengalami penurunan kini mulai menunjukkan perbaikan. Kenaikan elevasi air membuat pompa di lokasi tersebut kembali dapat difungsikan. Kondisi ini berdampak pada peningkatan debit produksi.
"Peningkatan debit ini diharapkan bisa bertahan mengikuti siklus pasang surut. Apabila pola tersebut mampu bertahan selama 4 hingga 5 jam, maka peluang menambah pasokan air menjadi lebih besar," jelasnya.
Saat ini, debit air tercatat meningkat menjadi 339 liter per detik dari sebelumnya sekitar 185 liter per detik. Namun, capaian tersebut masih bergantung pada dinamika pasang surut air di lapangan.
Menurut Suparjan, pengaturan operasional kini juga mengandalkan pembacaan pola tersebut agar produksi lebih efektif. “Jika pola ini dipertahankan, kita bisa tahu kapan tancap gas sedot air, kapan ngerem,” ujarnya.
Sementara itu, Direktur Teknik Perumdam Kutim, Galuh Boyo Munanto mengungkapkan dampak penurunan curah hujan mulai terasa di beberapa wilayah layanan. Kaliorang dan Sangkulirang menjadi daerah yang lebih dulu mengalami penurunan pasokan.
Dia memperkirakan kondisi serupa berpotensi meluas ke wilayah lain dalam waktu dekat, termasuk Bengalon. "Kami terus memantau fluktuasi level air sungai di setiap titik pengambilan (intake). Saat ini, penurunan debit sudah mulai dirasakan. Kami bergerak cepat mengantisipasi perluasan dampak ke wilayah operasional lainnya," ungkap Galuh.
Menghadapi kondisi tersebut, Perumdam memperkuat pengawasan jaringan distribusi untuk menekan kebocoran serta meningkatkan koordinasi antarunit layanan. Upaya ini dilakukan untuk menjaga kontinuitas distribusi di tengah keterbatasan sumber air.
Perusahaan juga mengimbau pelanggan untuk menyesuaikan pola penggunaan air selama musim kering, termasuk menyiapkan cadangan air sebagai langkah antisipasi. Pihaknya berupaya maksimal demi menjaga pelayanan di tengah cuaca ekstrem ini.
“Kami memohon pengertian pelanggan jika nantinya terjadi kendala teknis akibat menurunnya debit air baku. Komitmen kami adalah memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat Kutai Timur," pungkas Galuh. (*)
Editor : Sukri Sikki