SANGATTA - Fragmentasi habitat membuat semakin banyak orangutan keluar dari kawasan hutan dan berinteraksi dengan aktivitas manusia. Satwa dilindungi itu kerap ditemukan melintas di jalan tambang, memanjat jaringan listrik, hingga masuk ke area permukiman dan tempat pembuangan sampah.
Kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan utama konservasi orangutan di Kaltim. Berdasarkan data Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kaltim, hampir 70 persen konflik orangutan di provinsi ini terjadi di Lanskap Keraitan, kawasan seluas sekitar 560 ribu hektare di Kecamatan Bengalon, Kutim.
Masalah itu tidak lepas dari kondisi bentang alam yang telah terbagi ke dalam berbagai penggunaan lahan, mulai dari tambang, perkebunan sawit, Hutan Tanaman Industri (HTI), Hak Penguasaan Hutan (HPH) hingga permukiman. Akibat fragmentasi tersebut, sebagian besar populasi orangutan justru hidup di luar kawasan konservasi formal.
Founder Conservation Action Network (CAN) Paulinus Kristanto menyebut sekitar 76 persen habitat orangutan di Indonesia berada di luar kawasan yang dilindungi. Menurutnya, pendekatan konservasi yang hanya mengandalkan kawasan konservasi tidak lagi memadai.
"Kalau setiap pemegang izin hanya berfokus pada areanya sendiri, habitat orangutan tidak akan menjadi satu kesatuan yang kuat. Tidak mampu menampung Orangutan apabila kita melakukan konservasi secara terpisah," ujarnya.
Persoalan itu menjadi dasar penyelenggaraan Konsultasi Publik Usulan Peta Indikatif Areal Preservasi Habitat Orangutan Lanskap Keraitan yang digelar Kementerian Kehutanan bersama BKSDA Kaltim, mitra konservasi, dan sejumlah perusahaan pemegang konsesi di Samarinda, Jumat (12/6).
Melalui forum tersebut, para pihak mengusulkan pembentukan Areal Preservasi seluas 101.005,24 hektare yang menghubungkan kawasan penting habitat orangutan di Lanskap Keraitan. Konsep preservasi tersebut dirancang tetap mempertahankan status hukum lahan yang ada, tetapi dengan komitmen bersama menjaga fungsi ekologisnya.
Kepala BKSDA Kaltim Ari Wibawanto mengatakan, Lanskap Keraitan merupakan bagian dari Lanskap Kutai yang menjadi habitat utama Orangutan Morio di Kaltim. Kawasan itu dinilai memiliki populasi tinggi sekaligus tingkat konflik tertinggi.
"Karena itu kami ingin melakukan pengelolaan bersama melalui forum konservasi orangutan terpadu yang melibatkan pemerintah, pelaku usaha, masyarakat, dan seluruh pemangku kepentingan," katanya.
Akademisi Universitas Mulawarman Yaya Rayadin yang ditunjuk sebagai Ketua Forum Konservasi Orangutan Terpadu Lanskap Keraitan mengatakan pembentukan forum bukan memulai program baru, melainkan mempercepat berbagai upaya konservasi yang selama ini telah berjalan.
“Mungkin langkah berikutnya meningkatkan kembali program yang telah kita lakukan. Melanjutkan pondasi research yang sudah terbangun," kata Yaya.
Menurutnya, kolaborasi antarpemangku kepentingan diperlukan agar habitat-habitat yang terpisah tetap memiliki konektivitas dan mampu menjaga keberlangsungan populasi Orangutan di bentang alam Keraitan. (*)
Editor : Sukri Sikki