KALTIMPOST.ID, SANGATTA - Di tengah kawasan perkebunan Desa Bumi Jaya, Kecamatan Kaubun, Kutai Timur (Kutim) terdapat sebuah goa yang selama puluhan tahun dijaga masyarakat.
Dikenal sebagai Goa Kelelawar, destinasi wisata alam itu menawarkan pengalaman menyusuri lorong batu yang masih alami. Namun, di balik potensinya, pengembangan kawasan tersebut masih terkendala akses dan keterbatasan fasilitas.
Goa seluas kurang lebih dua hektare itu menjadi salah satu potensi wisata alam yang dimiliki Kutim. Meski belum banyak dikenal, kawasan tersebut tetap dijaga oleh masyarakat dan pemerintah Desa Bumi Jaya sejak ditemukan pada awal 1990-an saat warga membuka lahan pertanian.
Pengunjung yang ingin menikmati suasana di dalam goa dikenakan tiket masuk Rp20 ribu untuk anak-anak dan Rp30 ribu bagi orang dewasa. Tarif tersebut sudah termasuk penyewaan helm keselamatan dan pendamping yang akan memandu perjalanan menyusuri lorong goa.
Baca Juga: Pastikan Kelayakan Konsumsi, DLH PPU Siapkan Uji Laboratorium Independen dan Pelajari Treatment Air
Di dalam goa, bebatuan lembap masih terlihat alami. Aroma kotoran kelelawar sesekali tercium, namun tidak terlalu menyengat. Kotoran itu juga dimanfaatkan masyarakat sekitar sebagai pupuk organik. Koloni kelelawar yang menghuni bagian dalam goa tetap menjadi daya tarik utama kawasan tersebut.
Meski memiliki potensi, pengembangan destinasi wisata ini masih berjalan terbatas. Akses menuju mulut goa memang dapat dilalui kendaraan, namun ketika hujan turun kondisi jalan tanah menjadi licin sehingga menyulitkan pengunjung.
Perangkat Desa Bumi Jaya yang juga menjadi pemandu wisata, Rifan, mengatakan hingga kini pengelolaan kawasan masih mengandalkan kemampuan desa dan partisipasi masyarakat.
"Sampai sekarang kita masih menjaga dan melestarikan dengan dana yang masih minim. Jadi untuk pembangunan Goa Kelelawar ini pun kita lakukan pelan-pelan dan bertahap," ujarnya, Minggu (26/7).
Baca Juga: Pasar Pagi Masih Sepi, DPRD Dukung Kafe Rooftop dan Minta Disdag Tegas Tarik Lapak Mangkrak
Menurutnya, pemerintah desa telah beberapa kali mengajukan bantuan sarana dan prasarana untuk mendukung pengembangan objek wisata tersebut. Namun usulan tersebut belum mendapat persetujuan.
"Untuk sementara ini pengunjung masih tamu-tamu yang datang ke desa saja. Kita sudah sering mengajukan pengadaan sarana dan prasarana untuk merawat dan menjaga wisata ini, namun sampai sekarang belum ada lampu hijau," ungkapnya.
Saat ini, wisatawan yang datang masih didominasi tamu yang berkunjung ke Desa Bumi Jaya. Padahal, menurut Rifan, jika akses dan fasilitas pendukung dapat ditingkatkan, Goa Kelelawar memiliki peluang menjadi salah satu tujuan wisata alam di wilayah utara Kutai Timur.
Salah seorang pengunjung, Deo Datus Feran Kacaribu, menilai keunggulan Goa Kelelawar justru terletak pada kondisi alamnya yang masih terjaga.
"Pemandangannya luar biasa bagus. Goa ini masih benar-benar dirawat oleh masyarakat lokal," katanya.
Ia berharap pemerintah daerah memberi perhatian lebih terhadap destinasi-destinasi wisata yang belum berkembang. Menurutnya, pengembangan wisata tidak hanya berpotensi meningkatkan kunjungan, tetapi juga mendorong perekonomian masyarakat sekitar tanpa menghilangkan nilai kelestarian alam.
"Selain meningkatkan sektor pariwisata, langkah ini juga penting untuk melestarikan kekayaan alam yang dimiliki, khususnya di Desa Bumi Jaya," pungkasnya. (*)
Editor : Sukri Sikki