Sopir Truk di Sangatta Keluhkan Sulit Dapat BBM, Antrean Disebut Capai 14 Hari

Jufriadi • Dipublikasikan Jumat, 14 Agustus 2026 | 13:19 WIB
SULIT BBM: Sejumlah sopir truk Sangatta mengikuti rapat dengar pendapat di ruang hearing DPRD Kutim, Jumat (14/8). Mereka mengeluhkan sulitnya mendapatkan BBM jenis Biosolar. (JUFRIADI/KP)
SULIT BBM: Sejumlah sopir truk Sangatta mengikuti rapat dengar pendapat di ruang hearing DPRD Kutim, Jumat (14/8). Mereka mengeluhkan sulitnya mendapatkan BBM jenis Biosolar. (JUFRIADI/KP)

KALTIMPOST.ID, SANGATTA – Keluhan sulit mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) jenis Biosolar kembali disampaikan sopir truk di Sangatta, Kutai Timur (Kutim). Persatuan Truck Material Sangatta (Permata) mendatangi DPRD Kutim, Jumat (14/8), untuk mencari solusi atas persoalan tersebut.

Ketua Permata Mamat mengatakan, persoalan mendapatkan Biosolar telah berlangsung cukup lama. Kondisi itu disebut berdampak langsung terhadap aktivitas para sopir truk yang bergantung pada BBM bersubsidi tersebut.

Permata saat ini menaungi lebih dari 400 anggota. Dengan keterbatasan kuota dan panjangnya antrean di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), sebagian sopir disebut harus menunggu hingga mendapat giliran pengisian.

Baca Juga: Belasan Tahun Menanti Pelunasan, Ahli Waris Tagih Penyelesaian Lahan Pelabuhan Kudungga

“Kami mengadakan hearing ini kita mencari solusi jalan supaya masyarakat pengguna Biosolar ini bisa mudah mendapatkan BBM Biosolar,” ujar Mamat.

Menurut dia, persoalan tersebut bukan hanya membuat sopir harus menghabiskan waktu untuk mengantre. Sebagian bahkan terpaksa tidak bekerja karena tidak memiliki cukup bahan bakar untuk menjalankan kendaraannya.

“Kasihan anggota kami harus memberi makan keluarganya. Sementara setiap hari tidak bisa kerja,” katanya.

Mamat menyebut masa tunggu mendapatkan Biosolar bisa mencapai 14 hari. Kondisi itu terjadi karena anggota harus menunggu nomor antrean dan giliran pengisian berikutnya.

Baca Juga: Tak Kunjung Cair, Kutim Terus Tagih Dana Kurang Bayar DBH ke Pemerintah Pusat

Menurut Mamat, persoalan tersebut terjadi di sejumlah SPBU di Sangatta. Ia menilai ketersediaan BBM sebenarnya masih cukup apabila penyalurannya sesuai dengan kebutuhan kendaraan yang berhak mendapatkan Biosolar.

“Cuma ada oknum-oknum ini yang menyalahgunakan BBM. Sebenarnya cukup kalau kita hitung dengan kendaraan yang memerlukan dengan kuota yang masuk ke tiap pom,” jelasnya.

Dalam pertemuan dengan DPRD Kutim, Permata menyampaikan sejumlah usulan. Di antaranya penambahan kuota Biosolar serta pengaturan waktu khusus pengisian bagi kendaraan truk.

Mamat berharap pengawasan terhadap penyaluran Biosolar juga diperketat untuk mengurangi potensi penyalahgunaan.

Selain penambahan kuota, Permata mengusulkan adanya waktu khusus bagi sopir truk untuk mendapatkan BBM. Menurut dia, pengaturan tersebut dapat membantu memastikan kendaraan angkutan tetap beroperasi.

“Atau berikan waktu khusus untuk supir-supir truk. Waktu khusus untuk mengisi,” ujarnya.

Ia menilai kelancaran pasokan Biosolar tidak hanya berkaitan dengan kepentingan sopir. Aktivitas angkutan juga berkaitan dengan kegiatan ekonomi dan pembangunan di Kutim.

Permata tidak hanya beranggotakan sopir truk material. Mamat menyebut terdapat pula sopir ekspedisi dan travel yang tergabung dalam organisasi tersebut. Karena itu, dampak kesulitan mendapatkan Biosolar dinilai cukup luas.

Mamat mengatakan kedatangan Permata ke DPRD Kutim kali ini merupakan yang kedua. Sebelumnya, mereka pernah menyampaikan persoalan serupa hingga melakukan aksi demonstrasi. (*)

Editor : Duito Susanto
sopir truk sangatta dprd kutim kutai timur solar subsidi bbm subsidi