KALTIMPOST.ID, SANGATTA – Maraknya truk angkutan barang dengan muatan berlebih atau over dimension over loading (ODOL) di Kutai Timur (Kutim) mulai disikapi serius oleh pemerintah daerah.
Untuk mengoptimalkan pengawasan di lapangan, Dinas Perhubungan (Dishub) Kutim kini mematangkan kajian studi kelayakan (feasibility study/FS) untuk pembangunan fasilitas jembatan timbang.
Tiga calon lokasi telah disaring dari lima titik yang sebelumnya disurvei bersama pemerintah pusat. Titik tersebut meliputi kawasan di depan Kantor Camat Teluk Pandan, depan tambal ban Kilometer 3 Simpang 3 Bontang, serta depan Suka Rahmat di sisi kanan jalan.
Baca Juga: Antisipasi Pengetap, 8 Stasiun Pengisian BBM di Sangatta Diawasi Polisi
Kepala Bidang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) Dishub Kutim, Abdul Muis menegaskan pengawasan muatan tidak akan berjalan maksimal tanpa adanya fasilitas penimbangan langsung di jalan.
"Jembatan timbang ini sangat diperlukan, terutama untuk mengawasi dan menertibkan kendaraan-kendaraan overload yang masuk ke Kutai Timur," tegas Muis.
Menurut Muis, seluruh titik rekomendasi tersebut wajib diuji kelayakannya secara teknis terlebih dahulu sebelum diputuskan lokasi yang paling ideal.
Baca Juga: Penerimaan Pajak Kendaraan Kutim Tersendat, Bapenda Minta Unit Baru Wajib Pelat Lokal
"Kemarin kita survei lima lokasi, kemudian dari kementerian ada tiga yang diberikan sebagai objek survei dan perlu kita kaji lagi melalui FS," ungkapnya.
Secara regulasi, proyek fisik jembatan timbang sepenuhnya berada di bawah kewenangan Kementerian Perhubungan. Pemerintah Kabupaten Kutim sendiri memegang andil krusial dalam penyediaan serta pembebasan lahan setelah titik lokasi disetujui.
"Kita berharap nanti FS ini bisa segera terlaksana. Kalau sudah selesai, tahapan berikutnya adalah pengusulan resmi ke pusat dan pembebasan lahan oleh pemda," pungkas Muis. (*)
Editor : Duito Susanto