
Oleh:
Sara Wibawaning Respati
Dosen Politeknik Negeri Balikpapan
Anggota Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI)
SEJAK 2020, Kementerian Perhubungan menjalankan skema Buy the Service (BTS) atau Teman Bus di sejumlah kota. Negara membeli layanan dari operator per kilometer, bukan membiarkan operator bergantung pada setoran penumpang. Tujuan yang ingin dicapai cukup jelas: menarik pengguna kendaraan pribadi, terutama pengguna sepeda motor, untuk beralih ke angkutan umum.. Skema ini kemudian menjangkau belasan kota di Indonesia, termasuk Balikpapan, Banjarmasin, dan Banyumas.
Pertanyaannya bukan lagi apakah subsidi diperlukan. Manfaat angkutan umum yang terjangkau dan andal sudah jelas. Yang lebih layak ditanyakan sebenarnya: siapa yang benar-benar menaiki bus yang kita subsidi, dan apakah mereka sesuai dengan kelompok yang menjadi sasaran kebijakan?
Survei terhadap 205 penumpang Bacitra (Balikpapan City Trans) yang dilakukan pada Juni 2026 di tiga koridor, dari pagi hingga sore, memberikan gambaran yang menarik. Delapan dari sepuluh penumpang adalah perempuan. Hampir dua pertiga berusia di atas 50 tahun. Enam dari sepuluh berstatus sebagai ibu rumah tangga. Dan hanya sekitar seperempat perjalanan yang berkaitan dengan pekerjaan; sisanya terutama untuk belanja dan rekreasi.
Dengan kata lain, penumpang yang paling banyak menggunakan layanan ini bukanlah komuter pekerja seperti yang sering dibayangkan ketika membicarakan perpindahan dari kendaraan pribadi ke angkutan umum. Mereka lebih banyak berasal dari kelompok perempuan berusia di atas 50 tahun dan melakukan perjalanan untuk keperluan non-kerja. Pertanyaan berikutnya adalah mengapa pola ini muncul, dan apa artinya bagi cara kita menilai layanan bus bersubsidi.
Struktur Pilihan Mobilitas
Alasan pertama terletak pada struktur pilihan mobilitas itu sendiri. Bagi sebagian penumpang yang memiliki pilihan perjalanan yang lebih terbatas, bus dapat menjadi pilihan yang menarik untuk perjalanan rutin. Data survei menunjukkan bahwa seperlima responden tidak memiliki kendaraan pribadi, sementara separuh lainnya hanya memiliki sepeda motor. Kehadiran layanan yang relatif terjangkau berpotensi memberikan manfaat besar bagi kelompok yang tidak selalu memiliki pilihan perjalanan yang sama luasnya seperti pengguna kendaraan pribadi.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




