Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Dari Kebiasaan Jadi Keseriusan RT Cafe and Cut, Padukan Hobi Bertanam dan Gaya Kekinian

Dwi Restu Amrullah • Minggu, 28 April 2024 | 16:00 WIB
PERPADUAN APIK: Masifnya kehadiran tempat nongkrong membuktikan bisnis sangat menguntungkan. Satu lagi tempat nongkrong cocok menghabiskan waktu, yakni RT Cafe and Cut di seberang Jembatan Mahakam.
PERPADUAN APIK: Masifnya kehadiran tempat nongkrong membuktikan bisnis sangat menguntungkan. Satu lagi tempat nongkrong cocok menghabiskan waktu, yakni RT Cafe and Cut di seberang Jembatan Mahakam.

 

Tampak minimalis ketika dilihat dari depan, namun punya space yang cukup luas ketika ke dalam. RT Cafe and Cut hadir meramaikan pilihan tempat nongkrong di Samarinda.

 

        PUTIH jadi warna utama bangunan. Konsepnya semi-industrial. Dipadukan dengan cat hitam di bagian pintu dan jendela. RT Cafe mampu menyedot animo warga Kota Tepian yang suka menghabiskan waktu di kafe.

        Pandi Achmad selaku owner bercerita, sejatinya berpikir membangun usahanya yang baru digeluti itu sejak pertengahan 2023. “Jadi sebenarnya kan saya itu rukun tetangga (RT) di sekitar rumah, suka diajak nongkrong sama teman-teman sesama RT. Awalnya enggak bisa minum kopi atau susu, sering enek di tenggorokan,” ujarnya. Namun, di satu waktu, dia merasakan minuman kopi yang hampir secara keseluruhan ada di kedai atau coffee shop, yakni kopi gula aren. “Saya enggak tahu sama sekali soal kopi, karena melihat ada campuran susu, kopi, sama aren. Saya pikir dulu semua susu itu sama, ternyata setelah ngerasain kok beda,” sambungnya.

        Memiliki lahan, Pandi merasa kebiasaannya ngumpul dengan teman di beberapa tempat, akhirnya menyulap lahan yang tak besar menjadi tempat nongkrong. “Kalau enggak salah ingat, muncul ide buat tempat itu sekitar Rabu atau Kamis. Itu pertengahan 2023. Kemudian cari tukang, Senin langsung dikerjain,” ungkapnya. Pandi yang tak pernah terlibat di bisnis kafe, justru sangat excited dengan pembangunan usaha yang baru digelutinya itu. “Benar-benar semua saya desain sendiri. Termasuk meja kayu dan lainnya. Bahkan di awal pembangunan saya sempat bilang ke tukang, Pak, bisa enggak satu bulan bangunan selesai,” ujarnya.

 

        Setelah hampir enam bulan proses mendirikan bangunan, Pandi menyebut bahwa RT Cafe and Cut belum tuntas 100 persen. “Rencananya ada rooftop juga nanti. Kemudian 1 Mei nanti barber sudah bisa melayani,” sambungnya. Nama RT Cafe and Cut sendiri karena teman sesama RT yang sering ngumpul. Walau dalam prosesnya Pandi sempat dapat “nyinyiran” tetangganya. “Tapi saya cuekin aja, ternyata setelah bangunan jadi, malah banyak yang minta buka cepat sebelum buka. Makanya kami buka di awal Ramadan lalu,” akunya.

        Sementara itu, memadukan tanaman adalah karena kecintaan dan hobinya bercocok tanam. “Di rumah itu saya senang sama tanaman. Jadi sekalian aja diimplementasikan di sini,” imbuhnya. Untuk kayu yang dijadikan meja, disebutnya dapat dari keluarganya yang memang berusaha di bidang perkayuan. “Jadi ya memanfaatkan barang-barang dari keluarga juga,” sambungnya. Soal harga, dia tak mau ambil pusing.

        Pandi memang menjual suguhan makanan dan minum dengan selisih lebih murah. “Saya malah dibilang sama barista saya kok dijual lebih murah. Ya bagi saya enggak masalah. Kalau sehari antara 70–100 cup minuman mampu terjual. Dan sekarang usaha yang sebelumnya sama sekali buta bagi saya, bakal jadi keseriusan. Namanya orang berbisnis ya harus serius,” kuncinya. (dra/k16)

Editor : Dwi Restu A