KALTIMPOST.ID, Self-bullying, atau perundungan terhadap diri sendiri, semakin banyak dialami oleh generasi muda saat ini, khususnya Gen Z.
Fenomena ini mencakup berbagai tindakan yang membuat seseorang merendahkan dan menyiksa dirinya secara mental.
Pada era digital, tekanan sosial dan perbandingan diri dengan orang lain melalui media sosial sering memicu self-bullying.
Self-bullying adalah perilaku yang melibatkan kritik diri yang tidak beralasan, merendahkan diri, dan merasa tidak layak.
Hal ini bisa terjadi secara verbal maupun mental, di mana seseorang terus-menerus menganggap dirinya kurang dalam berbagai aspek kehidupan.
Bagi Gen Z, tekanan sosial yang muncul dari perbandingan diri dengan teman-teman di dunia maya atau harapan yang terlalu tinggi sering menjadi pemicu utama.
Baca Juga: Fenomena Doom Spending: Tren Belanja Impulsif yang Bikin Milenial dan Generasi Z Terjebak Utang
Self-bullying dapat berdampak besar pada kesehatan mental dan fisik. Seseorang yang terus-menerus memandang dirinya negatif, berisiko mengalami gangguan kecemasan, depresi, serta penurunan kualitas hidup.
Self-bullying juga dapat membuat seseorang menarik diri dari lingkungan sosial dan enggan mencari bantuan dari orang-orang terdekat.
Berikut adalah tanda-tanda self-bullying, dampaknya, serta cara mengatasinya agar tidak berkembang menjadi masalah serius.
- Sikap Kritis Berlebihan
Salah satu tanda utama dari self-bullying adalah sikap terlalu kritis terhadap diri sendiri. Gen Z sering kali merasa tidak pernah cukup baik, bahkan ketika mereka telah mencapai sesuatu yang berarti.
Misalnya, nilai yang dianggap bagus oleh orang lain, bisa dipandang sebagai kegagalan oleh seseorang yang melakukan self-bullying. Siklus kritik ini dapat merusak rasa percaya diri dan memicu gangguan kecemasan.
- Menghindari Interaksi Sosial
Self-bullying sering menyebabkan seseorang menghindari interaksi sosial. Mereka merasa tidak layak berada di sekitar orang lain, sehingga cenderung menarik diri dari teman dan keluarga.
Meskipun mereka mungkin tampak aktif di media sosial, perasaan kesepian dan isolasi sering kali menjadi masalah di kehidupan nyata.
- Berlebihan dalam Menyalahkan Diri Sendiri
Gen Z yang terjebak dalam self-bullying sering menyalahkan diri sendiri atas setiap kegagalan. Mereka merasa bertanggung jawab penuh, tanpa mempertimbangkan faktor eksternal yang mungkin berpengaruh. Kebiasaan ini bisa memperburuk kecemasan dan perasaan putus asa tentang masa depan.
- Kurangnya Perawatan Diri
Ketika seseorang tidak merawat dirinya sendiri, seperti kurang tidur, mengabaikan pola makan sehat, atau tidak menjaga kebersihan pribadi, ini bisa menjadi tanda fisik dari self-bullying.
Ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar ini dapat memperburuk kesehatan fisik dan mental.
- Merasa Tidak Layak
Gen Z yang melakukan self-bullying sering merasa tidak pantas menerima cinta, penghargaan, atau kebahagiaan.
Pikiran negatif ini membuat mereka menolak peluang positif dalam hidup, seperti hubungan yang sehat atau pencapaian karier.
Dampak Media Sosial pada Self-Bullying
Media sosial memiliki peran besar dalam meningkatkan self-bullying. Melalui medsos ini, perbandingan diri dengan kehidupan orang lain sering menjadi pemicu rendah diri.
Kehidupan sempurna yang ditampilkan di Instagram atau TikTok dapat membuat seseorang merasa kurang, bahkan ketika sebenarnya mereka memiliki banyak pencapaian.
Tekanan sosial, ekspektasi yang tidak realistis, dan keterpaparan terhadap media sosial sejak usia muda membuat Gen Z lebih rentan terhadap self-bullying.
Mereka sering merasa tertekan untuk mencapai kesempurnaan yang tidak realistis, baik dalam penampilan fisik, prestasi, maupun kehidupan pribadi.
Baca Juga: Cara Mudah Mengetahui Undertone Kulit untuk Memilih Makeup dan Warna Pakaian yang Tepat
Cara Mengatasi Self-Bullying agar Tidak Berkembang Menjadi Masalah Serius
- Menyadari Perilaku Self-Bullying
Langkah pertama untuk mengatasi self-bullying adalah menyadari bahwa perilaku tersebut terjadi.
Mampu mengenali kapan pikiran negatif muncul dan bagaimana hal itu memengaruhi suasana hati adalah kunci untuk menghentikan siklus tersebut. Menulis jurnal tentang perasaan dan pikiran bisa membantu menyadarinya.
- Membangun Rasa Kasih Sayang pada Diri Sendiri
Membangun self-compassion atau kasih sayang pada diri sendiri adalah salah satu cara untuk mengatasi self-bullying.
Menyadari bahwa kesalahan adalah bagian dari proses belajar, dan setiap orang berhak mendapatkan cinta dan penerimaan, dapat mengurangi kritik diri yang berlebihan.
- Tetap Terhubung dengan Orang-Orang Terdekat
Menjaga hubungan dengan keluarga dan teman-teman dapat membantu mengurangi rasa kesepian yang sering dirasakan oleh seseorang yang terjebak dalam self-bullying.
Dengan tetap berinteraksi secara sosial, mereka dapat menemukan dukungan emosional yang diperlukan.
- Fokus pada Pencapaian
Membuat daftar pencapaian dan hal-hal positif tentang diri sendiri dapat membantu seseorang keluar dari siklus self-bullying.
Mengingat kembali momen-momen ketika mereka merasa bangga dan bahagia akan memberikan perspektif yang lebih seimbang tentang diri sendiri.
- Mencari Bantuan Profesional
Jika self-bullying terasa sulit diatasi sendiri, penting untuk mencari bantuan dari psikolog atau konselor.
Banyak individu yang merasa kesulitan menghadapi masalah mental, tetapi dukungan dari profesional dapat memberikan solusi yang tepat.
Baca Juga: Apakah Down Syndrome Bisa Dideteksi sejak Dalam Kandungan? Berikut Beberapa Cara Untuk Mengetahuinya
Self-bullying adalah masalah yang serius, terutama di kalangan Gen Z yang terpapar tekanan sosial di era digital.
Mengenali tanda-tanda self-bullying dan mengambil langkah untuk mengatasinya adalah langkah penting untuk menjaga kesehatan mental.
Dengan mempraktikkan kasih sayang pada diri sendiri dan mencari dukungan dari orang-orang terdekat, siklus ini bisa dihentikan. (*)
Dapatkan info dan berita update lain dari Kaltim Post. Gabung/join dengan klik >> Whatsapp Channel Kaltim Post
Editor : Dwi Puspitarini