Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Kisah Pertempuran di Surabaya pada 10 November 1945, Bung Tomo: Merdeka atau Mati!

Dwi Puspitarini • Sabtu, 9 November 2024 | 17:26 WIB

 

Bung Tomo menggelorakan semangat perlawanan lewat pidatonya yang berapi-api untuk turun ke medan perang melawan penjajah.
Bung Tomo menggelorakan semangat perlawanan lewat pidatonya yang berapi-api untuk turun ke medan perang melawan penjajah.

 

 

KALTIMPOST.ID, Pada 10 November 1945, kota Surabaya menjadi saksi salah satu pertempuran paling heroik dalam sejarah Indonesia.

Hari itu, ribuan arek-arek Suroboyo bangkit melawan kekuatan militer Inggris, mempertaruhkan nyawa demi mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang baru diproklamasikan.

Setiap tanggal 10 November dikenang sebagai Hari Pahlawan, simbol keberanian rakyat Surabaya melawan penjajah yang ingin kembali berkuasa.

Setelah proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, Indonesia belum benar-benar bebas dari ancaman asing.

 Baca Juga: 13 Cara Mengelola Keuangan Menjelang Akhir Tahun: Tips Praktis untuk Stabilitas Finansial

Kekalahan Jepang dalam Perang Dunia II memicu kedatangan pasukan Sekutu ke Indonesia dengan tujuan melucuti senjata Jepang.

Namun, kehadiran pasukan Inggris yang diikuti oleh Belanda memicu ketegangan dengan rakyat Indonesia.

Belanda, yang ingin kembali berkuasa di Indonesia, menggunakan Inggris untuk mengamankan kepentingan mereka.

Situasi ini memanas di Surabaya, yang menjadi pusat perlawanan rakyat terhadap penjajah.

 Baca Juga: Cara Merencanakan Liburan Akhir Tahun yang Hemat Gak Bikin Dompet Tipis. Simak 10 Tips Hemat Ini

Tewasnya Brigadir Jenderal Mallaby dan Ultimatum Inggris

Salah satu pemicu utama terjadinya pertempuran di Surabaya adalah kematian Brigadir Jenderal Mallaby, seorang perwira tinggi Inggris.

Pada 30 Oktober 1945, terjadi pertempuran antara pejuang Indonesia dengan pasukan Inggris di dekat Jembatan Merah.

Dalam insiden tersebut, mobil yang ditumpangi Mallaby terbakar, dan ia tewas. Peristiwa ini membuat Inggris marah besar dan mengeluarkan ultimatum pada 9 November 1945, yang menuntut rakyat Surabaya menyerahkan senjata dan menghentikan perlawanan.

Ultimatum ini diabaikan oleh rakyat Surabaya yang merasa kemerdekaan sudah menjadi hak mereka.

Arek-arek Suroboyo justru bersiap melawan, mempertahankan Surabaya dari penjajah dengan senjata seadanya.

Ketika ultimatum berakhir pada 10 November 1945, Inggris melancarkan serangan besar-besaran ke kota Surabaya.

 Baca Juga: Tips Merawat Kendaraan di Musim Hujan: Jaga Mobil Tetap Prima, Perjalanan Jadi Lebih Aman dan Nyaman

Pada pagi hari 10 November 1945, ledakan meriam Inggris mengguncang Surabaya. Pasukan Inggris yang dilengkapi persenjataan modern menyerang dari darat, laut, dan udara.

Sementara itu, rakyat Surabaya yang mayoritas hanya memiliki bambu runcing, senjata sisa perang, serta persenjataan ringan, berjuang mati-matian mempertahankan kota.

Meskipun jumlah dan kekuatan tak sebanding, semangat juang arek-arek Suroboyo tidak pernah surut.

Para pemuda, tua-muda, pria-wanita, semua turun ke medan tempur. Dengan komando dari pemimpin lokal seperti Bung Tomo, yang menggelorakan semangat perlawanan lewat pidatonya yang berapi-api, rakyat Surabaya melawan habis-habisan.

Bung Tomo mengatakan, “Merdeka atau mati!”—sebuah seruan yang menjadi nyala semangat di tengah gempuran.

 Baca Juga: Tips Ampuh Melawan Penyakit di Musim Hujan! Lindungi Tubuh dengan Langkah Sederhana

Kisah Heroik Arek-Arek Suroboyo

Pertempuran ini menjadi simbol kekuatan dan keberanian rakyat Indonesia yang siap berkorban demi kebebasan.

Arek-arek Suroboyo dengan gagah berani mengadang tank dan meriam Inggris. Mereka mengandalkan taktik gerilya untuk mengimbangi persenjataan berat Inggris, menyerang dan menghilang dengan cepat. Strategi ini berhasil menyulitkan gerak pasukan Inggris.

Beberapa pejuang bahkan menjadi legenda karena keberaniannya. Misalnya, seorang pejuang perempuan yang dikenal sebagai “Surya” berani maju di garis depan untuk memberi semangat kepada pejuang lainnya.

Begitu pula anak-anak muda yang bertindak sebagai pengintai dan pembawa pesan, mempertaruhkan nyawa mereka demi menyampaikan informasi penting kepada para pejuang.

 Baca Juga: Manfaat dan Risiko Diet Makrobiotik: Rahasia Awet Muda ala Selebritas Hollywood

Pertempuran di Surabaya berlangsung selama tiga minggu penuh dengan korban yang sangat besar.

Ribuan nyawa melayang, baik dari pihak Indonesia maupun Inggris. Surabaya berubah menjadi kota yang penuh dengan puing-puing dan kehancuran. Namun, semangat rakyat Surabaya tak pernah padam.

Di pihak Inggris, mereka kehilangan ratusan tentara, dan perlawanan di Surabaya menunjukkan bahwa bangsa Indonesia tidak akan mudah ditundukkan.

Pertempuran ini menginspirasi kota-kota lain di Indonesia untuk melawan, mempertegas posisi Indonesia di mata dunia sebagai bangsa yang siap memperjuangkan kemerdekaannya hingga titik darah penghabisan.

Mengapa 10 November Diperingati sebagai Hari Pahlawan?

Keberanian rakyat Surabaya dalam pertempuran ini membuat tanggal 10 November dikenang sebagai Hari Pahlawan.

Pertempuran ini bukan hanya kemenangan fisik, melainkan kemenangan mental dan simbol perlawanan seluruh bangsa Indonesia.

Hari ini setiap tahun kita mengenang perjuangan arek-arek Suroboyo dan para pahlawan yang gugur demi kemerdekaan.

Hari Pahlawan juga menjadi pengingat bahwa kemerdekaan Indonesia tidak didapat dengan mudah.

Ribuan nyawa, darah, dan pengorbanan menjadi harga yang harus dibayar demi kemerdekaan.

Pada setiap peringatan Hari Pahlawan, kita diingatkan akan semangat juang, keberanian, dan kecintaan terhadap tanah air yang diwariskan oleh para pahlawan.

 Baca Juga: Tips Ampuh Mengatasi Kebocoran di Rumah saat Musim Hujan, Cegah Kerusakan Lebih Lanjut

Pesan dan Nilai yang Dapat Diambil dari Pertempuran Surabaya

Pertempuran Surabaya mengajarkan kita arti penting dari persatuan dan ketangguhan. Meski kekuatan rakyat Surabaya tidak sebanding dengan kekuatan militer Inggris, mereka tetap bertahan demi kehormatan bangsa.

Nilai keberanian, pengorbanan, dan semangat pantang menyerah ini menjadi warisan yang harus terus hidup dalam sanubari setiap generasi Indonesia.

Sejarah ini juga menunjukkan bahwa ketika rakyat bersatu dengan satu tujuan, kekuatan luar biasa bisa terbentuk.

Semangat kebersamaan yang lahir dalam pertempuran di Surabaya adalah pelajaran berharga bagi generasi sekarang dan yang akan datang untuk menjaga persatuan bangsa.

 Baca Juga: Diet Sehat dengan Jus Buah: 6 Pilihan Terbaik untuk Langsing Alami

Pertempuran di Surabaya pada 10 November 1945 merupakan babak penting dalam sejarah perjuangan Indonesia.

Kisah heroik ini menjadi simbol semangat dan keberanian rakyat Indonesia yang rela berkorban demi kemerdekaan.

Hari Pahlawan, yang kita peringati setiap tahun, bukan hanya sekedar hari libur, melainkan penghormatan kepada semua yang telah berjuang dan memberikan nyawanya demi negeri ini.

Sebagai generasi penerus, kita punya tanggung jawab untuk melanjutkan semangat juang ini dalam kehidupan sehari-hari.

Perjuangan masa kini mungkin tidak lagi dengan bambu runcing atau senjata, tetapi dengan tekad dan kerja keras untuk menjaga Indonesia tetap merdeka dan berdaulat. (*)

 

 Dapatkan info dan berita update lain dari Kaltim Post. Gabung/join dengan klik >> Whatsapp Channel 

Editor : Dwi Puspitarini
#Mengapa 10 November Diperingati sebagai Hari Pahlawan #10 November #sejarah #perang dunia ii #kemerdekaan #indonesia #arek suroboyo #Kisah Pertempuran di Surabaya pada 10 November 1945 #pertempuran surabaya #pahlawan #hari pahlawan #bung tomo #Brigadir Jenderal Mallaby