KALTIMPOST.ID, Ramadhan merupakan bulan penuh keberkahan. Di dalamnya, Allah memberikan kesempatan kepada umat Islam untuk memperbanyak ibadah dan mendekatkan diri kepada-Nya.
Namun, di tengah semangat beribadah, tidak sedikit dari kita yang tanpa sadar melakukan amalan yang sebenarnya tidak ada tuntunannya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW).
Bahkan, ada kebiasaan yang justru bisa mengurangi nilai ibadah kita tanpa kita sadari.
Fenomena ini sering terjadi karena faktor kebiasaan dan turun-temurun. Apa yang dilakukan oleh orang-orang sebelum kita dianggap sebagai bagian dari ibadah, padahal tidak ada dalil yang mendasarinya.
Inilah yang disebut dengan bid’ah, yakni sesuatu yang diada-adakan dalam agama.
Lantas, apa saja kebiasaan Ramadhan yang sebaiknya kita hindari agar ibadah kita semakin murni sesuai tuntunan? Simak daftarnya berikut ini!
Baca Juga: Ini Dia Jadwal Imsakiyah dan Waktu Berbuka Puasa Ramadhan 2025 di Paser!
- Berzikir dengan Keras setelah Shalat Tarawih
Sebagian masjid memiliki tradisi berzikir dengan suara keras setelah shalat tarawih, dipimpin oleh seseorang dan diikuti oleh jemaah. Padahal, Rasulullah SAW tidak pernah mencontohkan hal ini.
Tidak ada satu pun riwayat yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW atau para sahabatnya melakukan zikir secara berjemaah dengan suara lantang setelah shalat tarawih.
Berzikir memang dianjurkan, tetapi sebaiknya dilakukan secara individu dengan suara pelan dan khusyuk.
Jika kita ingin mendapatkan keberkahan dalam zikir, ikutilah cara yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW. Bukankah ibadah yang paling baik adalah yang sesuai dengan sunnah beliau?
- Membangunkan Orang untuk Sahur dengan Berlebihan
Membangunkan sahur memang penting, tetapi cara yang digunakan sebaiknya tetap dalam batas wajar.
Di beberapa daerah, ada kebiasaan membangunkan sahur dengan suara berlebihan, seperti menggunakan pengeras suara dengan volume tinggi atau bahkan dengan cara yang mengganggu kenyamanan orang lain.
Padahal, Rasulullah SAW tidak pernah mengajarkan cara seperti ini.
Yang lebih dianjurkan adalah mengingatkan keluarga dengan lembut dan bijaksana, bukan dengan cara yang justru bisa mengganggu kekhusyukan ibadah malam.
Baca Juga: Jadwal Imsakiyah dan Berbuka Puasa Ramadhan 2025 untuk Wilayah PPU
- Melafalkan Niat Puasa dengan Suara Keras
Sering kali kita mendengar seseorang mengucapkan niat puasa secara keras di masjid atau di rumah.
Bahkan, ada yang melakukannya secara berjemaah setelah shalat tarawih. Padahal, niat adalah amalan hati dan tidak harus diucapkan secara lisan.
Rasulullah SAW tidak pernah mengajarkan untuk melafalkan niat dengan suara lantang. Cukup dengan menghadirkan niat dalam hati sebelum waktu subuh, maka niat tersebut sudah sah.
Tidak perlu repot-repot melafalkannya karena yang terpenting adalah kesadaran dalam hati untuk menjalankan ibadah puasa.
- Imsak yang Terlalu Dini
Banyak orang mengira bahwa waktu imsak adalah saat harus berhenti makan dan minum sebelum azan subuh.
Akibatnya, banyak yang buru-buru mengakhiri sahur karena takut puasanya batal.
Padahal, imsak sebenarnya hanya sekadar pengingat bahwa waktu subuh sudah dekat, bukan tanda berhenti makan.
Dalam sebuah hadis, disebutkan bahwa Rasulullah SAW masih makan sahur hingga mendekati waktu subuh.
Oleh karena itu, kita tidak perlu berhenti makan terlalu cepat selama belum masuk waktu fajar.
Baca Juga: Jadwal Resmi Imsak dan Berbuka Puasa Ramadhan 2025 di Balikpapan, Simak di Sini!
- Menunda Azan Magrib
Ada sebagian orang yang sengaja menunda adzan magrib beberapa menit karena alasan kehati-hatian.
Mereka berpikir bahwa dengan menunda berbuka, mereka bisa lebih memastikan bahwa matahari benar-benar telah terbenam.
Namun, Rasulullah SAW justru mengajarkan untuk menyegerakan berbuka.
Dalam hadis disebutkan bahwa manusia akan selalu berada dalam kebaikan selama mereka tidak menunda-nunda berbuka.
Jadi, jika sudah masuk waktu magrib, tidak perlu ragu lagi—langsung berbuka!
- Takbiran dengan Beduk di Malam Idul Fitri
Banyak masjid yang mengumandangkan takbir dengan suara keras sambil memukul bedug sepanjang malam Idul Fitri.
Tradisi ini memang sudah melekat di berbagai daerah, tetapi apakah benar ada tuntunannya dalam Islam?
Yang diajarkan oleh Rasulullah SAW adalah bertakbir ketika hendak berangkat menuju tempat shalat Idul Fitri, bukan dengan cara berlebihan atau menambah-nambah sesuatu yang tidak diajarkan.
Baca Juga: Sikat Gigi saat Puasa, Batal atau Tidak? Ini Kata 4 Mazhab!
- Berpuasa sebelum Ramadhan untuk ‘Pemanasan’
Sebagian orang sengaja berpuasa sehari atau dua hari sebelum Ramadhan dengan alasan persiapan atau pemanasan.
Padahal, Rasulullah SAW melarang berpuasa sehari atau dua hari sebelum Ramadhan kecuali bagi mereka yang sudah memiliki kebiasaan puasa rutin seperti puasa Senin-Kamis atau puasa Daud.
Jadi, daripada mendahului puasa Ramadhan, lebih baik kita manfaatkan waktu sebelum Ramadhan untuk mempersiapkan diri dengan meningkatkan ibadah lain seperti membaca Al-Qur’an dan memperbanyak doa.
- Perayaan Nuzulul Qur’an
Setiap tanggal 17 Ramadhan, banyak orang yang mengadakan perayaan khusus untuk memperingati turunnya Al-Qur’an.
Acara ini sering diisi dengan pengajian, doa bersama, dan kegiatan lainnya.
Namun, yang perlu diperhatikan adalah bahwa Rasulullah SAW dan para sahabat tidak pernah mengadakan perayaan khusus semacam ini.
Meskipun memperingati Al-Qur’an adalah hal baik, tetapi yang lebih penting adalah mengamalkan isinya setiap hari, bukan hanya pada satu malam tertentu.
Baca Juga: Jangan Lemas saat Puasa! Ini 6 Jurus Ampuh Hindari Dehidrasi, Tetap Segar Seharian Penuh
- Berziarah Kubur Khusus Ramadhan
Menjelang Ramadhan atau setelahnya, banyak orang yang berbondong-bondong ke makam untuk berziarah.
Bahkan, ada yang melakukannya dengan ritual tertentu yang tidak sesuai dengan ajaran Islam.
Ziarah kubur memang dianjurkan untuk mengingat kematian, tetapi mengkhususkannya hanya di waktu tertentu tanpa dalil yang jelas bisa termasuk bid’ah. Lebih baik jika kita berziarah kapan saja tanpa terikat pada waktu tertentu.
Baca Juga: Penukaran Uang Baru Lebaran 2025 Dibuka! Cek Cara, Jadwal, dan Lokasinya
Jadi, bulan Ramadhan merupakan bulan istimewa yang seharusnya diisi dengan ibadah yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW.
Jangan sampai semangat kita beribadah justru membuat kita terjebak dalam kebiasaan yang tidak ada tuntunannya.
Mari lebih teliti dalam beramal dan selalu berpegang teguh pada sunnah agar ibadah kita diterima oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Semoga Ramadhan kali ini menjadi lebih bermakna dan penuh berkah! Amin. ***
Editor : Dwi Puspitarini