KALTIMPOST.ID, SAMARINDA — Eve Catherine (23), seorang warga di Dallas, Amerika Serikat harus merasakan akibat buruk dari diet karnivora yang sempat viral. Imbas dari pola makan ekstrem tersebut, ia dilarikan ke ruang gawat darurat akibat batu ginjal.
Diet karnivora, yang mengandalkan produk hewani seperti daging, telur, dan susu berlemak, telah menjadi gaya hidup yang diikuti Eve. Dalam kesehariannya, ia biasa sarapan dengan tiga butir telur, makan yogurt di siang hari, dan menyantap steak saat malam. Namun, pola makan tinggi protein itu malah membawa petaka.
"Saya bangun suatu pagi dan mendapati urine saya berdarah. Itu sangat mengganggu dan jelas tidak normal," ungkap Eve, dikutip dari NY Post, medio Maret lalu.
Dokter sebenarnya sudah memberikan peringatan terkait kadar protein tinggi dalam urinenya. Sayangnya, peringatan tersebut diabaikan hingga akhirnya ginjal Eve bermasalah. Asupan protein yang berlebihan diketahui dapat membebani fungsi ginjal, terutama pada individu yang memiliki riwayat masalah ginjal.
Ahli kesehatan menambahkan bahwa diet tinggi protein sering kali membatasi konsumsi serat dari sayur dan buah. Hal itu dapat memicu sembelit, sakit kepala, hingga bau mulut. Bahkan, kandungan lemak jenuh pada daging merah atau olahan dapat meningkatkan risiko penyakit jantung.
Menurut WebMD, kelebihan protein juga dapat menghilangkan sitrat dalam tubuh, yakni zat yang berfungsi mencegah pembentukan batu ginjal.
Meski demikian, para ahli menegaskan bahwa konsumsi daging tetap aman asal tidak berlebihan. "Penting untuk menjaga keseimbangan asupan nutrisi, termasuk serat dari sayur dan buah-buahan," ujar Eve, yang kini aktif memperingatkan masyarakat tentang bahaya pola makan tidak seimbang.
Pengalaman Eve menjadi pelajaran bagi banyak orang untuk mendengarkan tubuh dan berkonsultasi dengan profesional medis sebelum mengikuti tren diet tertentu. "Jangan makan terlalu banyak protein, ya. Jangan abaikan asupan serat Anda," pesannya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo