KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Duta Putri Pertiwi Indonesia 2024, Aliya Salma, memanfaatkan momentum mudik Lebaran ke kampung halamannya di Samarinda dengan mempromosikan kekayaan budaya dan destinasi wisata lokal. Aliya yang merupakan 1st Runner Up Putri Pertiwi Indonesia 2024 itu mengunjungi sejumlah lokasi ikonik selama libur Lebaran 1446 H.
Dalam wawancara bersama Kaltim Post, remaja berusia 13 tahun tersebut mengatakan bahwa mudik tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tapi juga kesempatan untuk memperkenalkan potensi daerahnya. “Saya senang bisa pulang ke Samarinda dan mengenal lebih dalam budaya serta kuliner di sini. Saya ingin anak-anak seusia saya juga mencintai warisan budaya kita,” kata Aliya.
Selama berada di Samarinda, Aliya mengunjungi Desa Budaya Pampang, sebuah kawasan pelestarian adat Dayak yang kerap menjadi tujuan wisata budaya. Di sana, ia turut mempraktikkan tarian tradisional dengan mengenakan busana adat setempat. Ia juga menjajal Kapal Wisata Sungai Mahakam dan mencicipi aneka kuliner khas seperti soto banjar dan nasi kuning Samarinda.
Aliya bukan hanya dikenal sebagai model berbakat, tetapi juga memiliki suara emas yang telah membawanya meraih prestasi di kancah internasional. Ia pernah mewakili RRI Indonesia dalam ajang Bintang Kecil Malaysia dan berhasil menembus 4 Besar Grand Final. Bakatnya juga sering ia bagikan melalui akun Instagram pribadinya yang diikuti oleh ribuan penggemar.
Tak hanya unggul di bidang seni, Aliya juga menorehkan prestasi akademik yang membanggakan. Ia aktif mengikuti Olimpiade Matematika, baik di tingkat nasional maupun internasional, membuktikan bahwa kesuksesan di dunia hiburan dan pendidikan dapat berjalan beriringan.
Baru saja merayakan ulang tahun ke-13 pada 31 Maret 2025, Aliya menyatakan komitmennya untuk terus berkembang di berbagai bidang. "Saya ingin membuktikan bahwa karir di dunia seni dan prestasi akademik bisa seimbang. Menjadi publik figur itu tidak hanya tentang popularitas, tapi juga tentang memberikan dampak positif," tuturnya.
Aliya berharap kisahnya dapat menginspirasi anak-anak Indonesia untuk tidak menyerah pada mimpi, baik di bidang seni maupun akademik. Baginya, pendidikan adalah fondasi penting yang akan memperkuat setiap karya yang dihasilkan. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo