KALTIMPOST.ID, Mungkin kamu pernah ditegur oleh orang tua atau nenek saat menyapu malam hari.
Biasanya alasannya bukan karena debunya, tapi katanya "nanti rezekimu disapu keluar!"
Kalimat itu begitu melekat di telinga banyak orang Indonesia, khususnya mereka yang tumbuh dalam budaya Jawa atau Sunda.
Tapi… apakah benar menyapu malam bisa bikin rezeki hilang?
Menariknya, meski terdengar tidak logis di era modern ini, kepercayaan seperti itu masih bertahan.
Bahkan beberapa orang masih memilih menahan diri untuk menyapu saat hari mulai gelap.
Ini bukan soal takut kotor, tapi karena diyakini bisa membawa sial, rezeki menjauh, atau malah mengundang hal-hal yang tidak diinginkan.
Lalu, dari mana sebenarnya larangan ini berasal? Apakah sekadar mitos lama yang diwariskan turun-temurun? Atau sebenarnya ada alasan logis yang tersembunyi di balik sapu dan malam hari?
Baca Juga: Cara Efektif agar Tidak Ikutan Tren FOMO, Temukan Ketenangan di Era Media Sosial
Mitos atau Nasihat Berkedok Mistis?
Dalam budaya Jawa, larangan menyapu malam hari dikenal sebagai bagian dari gugon tuhon, yaitu mitos atau kepercayaan lokal yang diyakini membawa nasihat tersembunyi.
Mengutip jurnal Konstruksi Peran Gender dalam Produksi dan Konsumsi Makna Gugon Tuhon oleh Ella Nazerinatul Fauziyah dan Rias Antho Suharjo, gugon tuhon berfungsi sebagai bentuk penyampaian nilai etika, sopan santun, dan tanggung jawab dengan cara yang “menggigit”.
Dalam konteks menyapu malam hari, masyarakat percaya bahwa aktivitas ini bisa mengusir rezeki, mengundang kesialan, atau membuat hidup seret.
Tapi jika ditelaah lebih dalam, larangan ini kemungkinan besar berasal dari kebiasaan hidup masyarakat zaman dahulu.
Baca Juga: Serupa tapi Tak Sama, Inilah Perbedaan Baking Soda dan Baking Powder yang Sering Bikin Kue Bantat
Alasan Logis di Balik Larangan
Dahulu, listrik belum tersedia seperti sekarang. Menyapu malam hari dalam penerangan temaram atau hanya bermodal lampu minyak tentu tidak efektif.
Dilansir dari Suar.ID, orang zaman dulu menganggap menyapu malam dapat menyebabkan barang-barang kecil yang berharga ikut tersapu dan hilang, karena tidak terlihat dengan jelas.
Bayangkan jika ada uang receh, anting, atau paku kecil yang ikut tersapu dan terbuang begitu saja.
Inilah yang kemudian diasosiasikan dengan "menyapu rezeki keluar rumah." Dalam logika tradisional, kehilangan benda-benda kecil ini bisa berarti kehilangan peluang, kehilangan berkah alias rezeki.
Selain faktor logika, kepercayaan ini juga bersinggungan dengan dunia mistis. Dikutip dari Fimela.com, sebagian orang percaya bahwa malam hari adalah waktunya makhluk halus bergerak.
Menyapu saat itu bisa mengusik "penghuni lain" yang sedang lewat atau singgah. Ini bisa memicu gangguan yang bersifat metafisik meski tidak semua orang mempercayainya.
Hal ini menjadi semacam peringatan tidak langsung kepada anak-anak atau anggota keluarga untuk menghormati waktu malam, menjaga ketenangan, dan menghindari aktivitas yang bisa memicu kesialan menurut kepercayaan lokal.
Baca Juga: Jangan Asal Posting Foto Anak di Medsos! Ini Risiko Sharenting yang Perlu Diketahui Orang Tua
Nilai Etika di Balik Mitos
Di balik mitos dan kepercayaan, tersimpan nilai pendidikan yang sangat dalam.
Larangan ini mengajarkan kita untuk bekerja dengan waktu yang tepat, menjaga efisiensi, dan tidak terburu-buru menyelesaikan tugas di luar jam yang wajar.
Alih-alih hanya percaya secara buta, generasi sekarang bisa mengambil pelajaran dari sisi budaya dan logika.
Kadang, nasihat orang tua dikemas dalam bentuk mitos agar lebih mudah diingat, walau tidak selalu harus dipercaya secara harfiah.
Menyapu malam hari memang tak akan membuat rezekimu benar-benar hilang. Tapi jika ditarik ke akar budaya dan logika, larangan ini punya nilai edukatif yang tidak bisa diabaikan.
Sebagai generasi modern, kita bisa menimbang mana mitos yang sarat makna, dan mana yang perlu diluruskan dengan pengetahuan.
Dan yang pasti, rumah yang bersih adalah rumah yang membawa kenyamanan, baik pagi maupun malam hari. ***
Editor : Dwi Puspitarini