KALTIMPOST.ID, Tak sedikit orang tua yang frustrasi saat anak mereka lupa membereskan mainan, malas mandi sendiri, atau enggan membantu pekerjaan rumah.
Lalu mereka menyimpulkan, "Anakku belum bisa bertanggung jawab." Padahal, yang sering terlewat justru proses menanamkan nilai tanggung jawab itu sendiri.
Banyak orang tua mengira tanggung jawab itu bawaan lahir atau otomatis tumbuh seiring usia.
Padahal menurut psikolog anak dari University of Minnesota, Dr. Ross Thompson, “Tanggung jawab adalah keterampilan yang harus diajarkan secara konsisten, bukan hanya diharapkan.”
Artinya, peran orang tua sangat menentukan apakah anak bisa menjadi pribadi yang bertanggung jawab atau tidak.
Dilansir dari Verywell Family, anak yang terbiasa dilibatkan dalam kegiatan rumah tangga sesuai usianya akan lebih mudah berkembang secara emosional dan sosial.
Mereka juga cenderung lebih siap menghadapi tantangan di sekolah dan kehidupan sosial karena terbiasa memiliki peran.
Baca Juga: Bukan Cuma Soal Pintar, Ini Cara Bikin Anak Jatuh Cinta pada Buku
6 Cara Ampuh Mengajarkan Tanggung Jawab pada Anak yang Bisa Dicoba Sekarang
- Berikan Tugas Sesuai Usia, Bukan Sesuai Harapan Orang Tua
Menurut American Academy of Pediatrics (AAP), anak usia 3 tahun pun sudah bisa diberi tanggung jawab ringan seperti membereskan mainan atau menyimpan sepatu.
Kuncinya, berikan tugas kecil yang bisa diselesaikan anak sendiri, bukan tugas besar yang membuat mereka frustrasi.
Contoh: “Tolong letakkan sendok di meja, ya, Nak. Itu tugas kamu hari ini.”
Bukan, “Kenapa kamu nggak bantu Mama masak?!”
- Libatkan Mereka dalam Rutinitas Keluarga Sejak Dini
Kebiasaan membentuk karakter. Jika anak terbiasa membantu orang tua dalam aktivitas rumah tangga, mereka akan merasa bahwa itu bagian dari peran mereka sebagai anggota keluarga. Ini bukan soal menyuruh, tapi melibatkan.
Biarkan anak ikut menyiapkan makan malam, melipat baju, atau menyiram tanaman. Anak akan merasa dihargai karena dipercaya.
Baca Juga: 7 Cara Efektif Melatih Konsentrasi Anak sebelum Mulai Calistung, Dijamin Lebih Siap Belajar
- Beri Contoh Nyata, Bukan Sekadar Nasihat
Anak-anak belajar lewat pengamatan. Kalau orang tua sering menunda pekerjaan atau menyalahkan orang lain saat ada masalah, jangan kaget jika anak juga meniru hal yang sama. Orang tua adalah guru tanggung jawab paling pertama.
“Aku lihat kamu langsung cuci piring setelah makan. Aku juga mau seperti itu, Ma,” — komentar polos yang sering muncul dari anak ketika ia mencontoh langsung.
- Puji Usaha, Bukan Hasil Akhirnya
Tanggung jawab bukan tentang kesempurnaan, tapi tentang konsistensi. Ketika anak mencoba menyapu meski masih belum bersih, fokuslah pada usahanya dulu, bukan pada hasilnya yang belum sempurna.
“Wah, kamu sudah berusaha menyapu sendiri. Terima kasih, ya. Nanti Mama bantu rapikan sedikit.”
Menurut psikolog parenting Laura Markham (AhaParenting.com), pujian yang tulus atas usaha anak akan memperkuat rasa percaya diri dan keinginan untuk mengulang perilaku baik.
Baca Juga: Anak Cerdas Bukan Cuma Soal IQ, Ini Kunci Membuka Potensi Kreativitasnya
- Latih Anak Membuat Keputusan dan Bertanggung Jawab atas Pilihannya
Misalnya, biarkan anak memilih baju yang ingin dipakai, meski warnanya tidak cocok.
Ketika mereka merasa kurang nyaman, mereka belajar bahwa setiap pilihan ada konsekuensinya.
Ini cara sederhana untuk membangun kesadaran tanggung jawab sejak dini tanpa harus memarahi.
- Jangan Takut Anak Melakukan Kesalahan
Dilansir dari Harvard Graduate School of Education, anak yang diberi ruang untuk gagal secara sehat akan tumbuh menjadi individu yang lebih bertanggung jawab, karena mereka belajar dari pengalaman, bukan dari rasa takut.
Alih-alih berkata, "Tuh kan, Mama bilang juga apa!", cobalah katakan, "Nggak apa-apa gagal, yuk kita coba lagi bareng-bareng."
Baca Juga: Jangan Asal Posting Foto Anak di Medsos! Ini Risiko Sharenting yang Perlu Diketahui Orang Tua
Jadi, mengajarkan tanggung jawab pada anak bukan soal menyuruh atau mengomel. Ini tentang menciptakan lingkungan yang mendukung, memberi contoh, dan memberi ruang bagi anak untuk tumbuh menjadi pribadi yang peduli dan sadar akan perannya.
Mulai dari tugas kecil dan pujian tulus, kamu bisa mencetak anak yang bertanggung jawab tanpa tekanan. Yang penting, konsisten, sabar, dan hadir dalam prosesnya. ***
Editor : Dwi Puspitarini