Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Mengungkap Asal-Usul Warna “Hijau Miskin” yang Viral di Media Sosial

Rahmi Ramadhani • Sabtu, 9 Agustus 2025 | 14:35 WIB

 

Istilah si hijau miskin yang ramai jadi pembahasan di medsos.
Istilah si hijau miskin yang ramai jadi pembahasan di medsos.

KALTIMPOST.ID, Pernah dengar istilah “hijau miskin”? Istilah ini masih menjadi pembahasan ikonik di media sosial.

Biasanya istilah ini muncul ketika warna tembok seseorang berwarna hijau diiringi dengan situasi yang sedang sulit.

Konon warna cat tembok ini dianggap oleh netizen sebagai perumpamaan kondisi masyarakat yang berada di level menengah ke bawah.

Biasanya tembok hijau miskin ini diidentikan pada bangunan rumah kontrakan, kos-kosan, atau hunian sederhana lainya.

Tak cukup kondisi ini menjadi candaan yang juga dirasakan oleh beberapa netizen dan relate dengan kondisi yang ditampilkan oleh para creator video.

Namun, benarkah warna bisa mencerminkan status ekonomi? Mari kita telusuri asal-usul dan makna di balik istilah yang kontroversial ini.

Warna Asli si Hijau Miskin

Green Gecko adalah nama resmi dari istilah “hijau miskin” ini. Secara teknis, green gecko punya kode warna di #9ACD32 atau #66CDAA.

Punya karakteristik yang cerah, segar, dan menyerupai daun muda, warna ini biasanya sering digunakan oleh desain interior agar ruangan bisa lebih terasa alami, sejuk, serta membuat orang sekitarnya merasa lebih tenang.

Namun seiring waktu, warna ini dikaitkan dengan citra rumah-rumah warga kurang mampu karena kerap ditemukan di rumah sederhana dan bangunan program bantuan.

Program bantuan yang dimaksud adalah program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD).

Pada program ini, TNI membantu pembangunan serta perbaikan rumah-rumah warga di daerah tertinggal, termasuk mengecat dinding rumah.

Sebab identitas TNI lekat dengan warna hijau, maka cat berwarna green gecko pun digunakan secara masif.

Alasan pemilihan cat ini bukan hanya karena simbolik, tetapi juga karena harganya relatif murah dan tersedia secara eceran.

Dalam beberapa kasus, cat hijau ini bisa dibeli hanya dengan harga Rp 10.000 per kilogram, sehingga menjadi solusi ekonomis untuk proyek massal.

Warna “Kemiskinan” Lainnya

Sebenarnya warna hijau bukan satu-satunya warna yang distigmakan sebagai warna kemiskinan.

Ada pula warna-warna lainnya yang punya stigma negatif yang kuat oleh beberapa masyarakat.

  1. Cokelat Kusam (Raw Umber)

Warna ini biasanya melambangkan kehidupan yang keras, kesederhanaan, dan kerja kasar. Biasanya terdapat pada representasi visual lingkungan yang kumuh, daerah tandus, atau pada pakaian usang.

  1. Abu-Abu (Charcoal Gray)

Warna ini memberikan kesan yang suram, tanpa harapan, serta aktivitas yang monoton bagi yang menggunakan. Warna ini juga biasanya diasosikan dengan latar belakang kota miskin, polusi, serta suasana muram di dalam film.

  1. Kuning Kusam (Pale Ochre)

Kondisi kekurangan gizi, penyakit, atau kondisi yang tidak sehat biasanya identik dengan warna kuning kusam. Representasinya bisa pada anak-anak miskin atau daerah kekeringan.

Alih-alih memandang warna sebagai simbol kemiskinan, mari kita mulai melihatnya dari sudut pandang estetika, fungsi, dan nilai filosofis. Warna, pada akhirnya, hanyalah warna, bukan penentu siapa kita.

Editor : Hernawati
#STATUS EKONOMI #cat tembok #warna hijau miskin #istilah hijau miskin #warna berstigma negatif