KALTIMPOST.ID, Coba buka media sosial. Kamu pasti akan menemukan kata “healing” dan “self-care” bertebaran di mana-mana. Mulai dari staycation di vila yang tenang, journaling di kafe estetik, hingga sekadar menikmati me time sambil skincare-an.
Bagi Gen Z, dua kata itu sudah seperti mantra wajib.
Generasi sebelumnya mungkin menganggap ini sebagai bentuk kemanjaan. “Sedikit-sedikit healing.” Sementara pada era sebelumnya, healing belum populer, dan mengedepankan kerja keras.
Tapi, apakah benar Gen Z ini manja? Atau jangan-jangan, obsesi mereka pada kesehatan mental ini adalah respons logis terhadap tekanan zaman yang memang lebih berat?
Generasi Paling ‘Sadar’ Kesehatan Mental
Harus diakui, Gen Z adalah generasi yang paling vokal dan “sadar” soal kesehatan mental (mental health awareness). Mereka tumbuh di dunia yang hiper-kompetitif, dibombardir standar kesuksesan di media sosial, dan merasakan langsung ketidakpastian ekonomi.
Berbeda dengan generasi dulu yang diajarkan untuk “memendam masalah”, Gen Z didorong untuk “merasakan” dan “memvalidasi” emosi mereka.
Tekanan akademis yang tinggi, hustle culture yang menuntut kerja non-stop, dan paparan konstan terhadap kehidupan orang lain di Instagram menciptakan level stres dan kecemasan (anxiety) yang belum pernah ada sebelumnya.
‘Self-Care’ Bukan Cuma Liburan Mewah
Banyak yang salah kaprah mengartikan self-care ala Gen Z. Ini bukan melulu soal liburan mahal atau belanja barang branded.
Bagi mereka, self-care adalah tindakan aktif untuk merawat diri sendiri secara fisik dan mental. Bentuknya bisa sangat beragam dan seringkali gratis:
- Digital Detox: Sengaja puasa media sosial selama beberapa jam atau hari untuk menjernihkan pikiran.
- Journaling: Menuliskan isi pikiran dan perasaan untuk memahami emosi diri sendiri.
- Menetapkan Batasan (Boundaries): Berani bilang “tidak” pada ajakan teman saat sedang butuh istirahat, atau menolak pekerjaan di luar jam kerja.
- Aktivitas Sederhana: Membaca buku, mendengarkan musik, meditasi, atau bahkan tidur siang tanpa rasa bersalah.
Healing juga bukan berarti lari dari masalah. Justru itu adalah proses untuk menghadapi dan mengolah trauma atau luka batin, baik itu dilakukan sendiri atau dengan bantuan profesional seperti psikolog.
Bukan Manja, Tapi Kebutuhan Bertahan Hidup
Jadi, kembali ke pertanyaan awal: manja atau tuntutan zaman?
Obsesi Gen Z pada healing dan self-care bukanlah tanda kelemahan. Justru sebaliknya, ini adalah mekanisme pertahanan diri (coping mechanism) yang cerdas. Ini adalah cara mereka untuk “mengisi ulang baterai” agar tidak tumbang.
Di zaman yang menuntut segalanya serba cepat dan sempurna, merawat diri sendiri bukanlah kemewahan, melainkan kebutuhan esensial untuk bertahan hidup dan tetap waras.
Editor : Hernawati