Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Mengenal 'Avoidant Attachment Style': Saat Kebutuhan Mandiri Mengalahkan Keinginan untuk Intim

Khoirun Nisa • Rabu, 29 Oktober 2025 | 19:06 WIB

Foto ilustrasi
Foto ilustrasi
KALTIMPOST.ID, JAKARTA- Pernahkah kamu mengenal seseorang yang tampak sempurna di awal masa pendekatan, tapi langsung "menghilang" atau menjadi dingin begitu hubungan mulai serius? 

Atau mungkin kamu sendiri yang merasa tidak nyaman, "tercekik", dan ingin kabur saat seseorang mencoba terlalu dekat secara emosional?

Jika ya, kamu mungkin sedang berhadapan dengan apa yang oleh ilmu psikologi disebut sebagai 'Avoidant Attachment Style' atau Gaya Keterikatan Menghindar.

Ini bukanlah "sok jual mahal" atau sekadar "cuek". Ini adalah pola perilaku mendalam yang akarnya terbentuk sejak masa kanak-kanak.

Apa Itu 'Attachment Style'?

Teori keterikatan (dipelopori oleh psikolog John Bowlby dan Mary Ainsworth) menjelaskan bahwa cara kita berinteraksi dengan pengasuh utama (orang tua) di masa kecil akan membentuk "cetak biru" atau pola cara kita berhubungan dengan orang lain saat dewasa, terutama dalam hubungan romantis.

Idealnya, kita membentuk Secure Attachment (Keterikatan Aman), di mana kita merasa nyaman dengan keintiman sekaligus percaya diri dengan kemandirian.

Namun, Avoidant Attachment Style terbentuk dari pengalaman yang berbeda.

Akar Masalah: Si 'Mandiri' yang Terluka

Pola avoidant biasanya terbentuk pada masa kanak-kanak di mana pengasuh utama secara konsisten:

Tidak Responsif: Saat si anak menangis atau menunjukkan emosi, pengasuh mengabaikannya.

Menjaga Jarak: Pengasuh mungkin "dingin" secara fisik atau emosional.

Menuntut Kemandirian: Anak didorong untuk "mandiri" terlalu dini ("Jangan cengeng," "Urus dirimu sendiri").

Akibatnya, si anak belajar sebuah pelajaran penting untuk bertahan hidup: "Menunjukkan emosi itu tidak ada gunanya," atau "Aku tidak bisa bergantung pada orang lain."

Mereka kemudian tumbuh menjadi orang dewasa yang hiper-mandiri. Mereka membangun tembok emosional yang tinggi sebagai mekanisme pertahanan diri.

Tanda-Tanda Seseorang Memiliki Pola 'Avoidant'

Dalam hubungan dewasa, pola ini bermanifestasi dalam beberapa perilaku khas:

Menjunjung Tinggi Kemerdekaan: Bagi mereka, kebebasan dan independensi adalah segalanya. Mereka takut kehilangan diri mereka sendiri dalam sebuah hubungan.

Merasa "Tercekik" (Suffocated): Keintiman emosional yang intens atau tuntutan komitmen terasa seperti ancaman. Ini membuat mereka ingin "kabur".

Kesulitan Membuka Diri: Mereka sangat sulit membicarakan perasaan, kerentanan, atau masalah pribadi. Mereka lebih suka memendamnya sendiri.

Ahli Menjaga Jarak: Mereka sering menggunakan strategi untuk menciptakan jarak—entah itu ghosting, dry text, menyibukkan diri dengan pekerjaan, atau mencari-cari kesalahan kecil pada pasangan.

Rasionalisasi Perasaan: Mereka sering merasionalisasi penarikan diri mereka dengan berkata, "Aku belum siap," "Aku tidak butuh hubungan," atau "Drama itu melelahkan."

Bukan Berarti Tidak Punya Perasaan

Penting untuk dipahami: orang dengan pola avoidant bukan berarti tidak punya perasaan atau tidak menginginkan cinta. Jauh di lubuk hati, mereka menginginkan koneksi seperti orang lain.

Bagi mereka, keintiman adalah paradoks. Sesuatu yang mereka inginkan, sekaligus sesuatu yang paling mereka takuti. 

Penarikan diri mereka adalah mekanisme pertahanan yang sudah otomatis berjalan, bukan kebencian yang disengaja.

Baca Juga: Kesalahan Sebagian Gen Z Memahami ‘Avoidant Attachment Style’ Lewat Tren TikTok Tuai Kritik

Kabar baiknya, attachment style bukanlah takdir seumur hidup. Dengan kesadaran diri (self-awareness), kemauan untuk memahami luka masa kecil, dan terkadang bantuan profesional (terapi), seseorang dapat "bergeser" dari pola avoidant menuju pola secure (aman) yang lebih sehat. 

Editor : Uways Alqadrie
#Avoidant Attachment Style #psikologi hubungan #kesehatan mental #avoidant attachment