KALTIMPOST.ID, Menjalin hubungan dengan seseorang yang benar-benar memiliki pola Avoidant (Penghindar) bisa sangat membingungkan. Di satu sisi, mereka tampak peduli, namun di sisi lain, mereka bisa tiba-tiba menjadi dingin dan menjaga jarak.
Buat yang belum tahu, Avoidant adalah kegagalan seseorang dalam menjalin hubungan jangka panjang dan cenderung menghindari keintiman secara fisik maupun emosional akibat trauma di masa lalu.
Jika berpasangan dengan seseorang berciri ini, memaksanya untuk berubah atau “mengejarnya” hanya akan memperburuk keadaan. Berikut adalah beberapa hal yang perlu dipahami:
Hindari ‘Mengejar’ Saat Pasangan Mundur
Saat si Avoidant menarik diri (misalnya, tiba-tiba butuh “me time”), reaksi naluriah dari pasangan adalah mengejarnya. Hal ini sebaiknya dihindari karena hanya akan membuatnya makin lari. Beri dia ruang yang dibutuhkan untuk “bernapas”.
Jangan Dianggap Masalah Personal
Baca Juga: ‘Weaponized Therapy Speak’: Saat Istilah Psikologi Jadi Senjata dalam Hubungan
Seringkali, penarikan dirinya bukan tentang pasangannya. Ini adalah mekanisme pertahanan dirinya yang sudah otomatis berjalan. Dia tidak menarik diri karena benci, dia menarik diri karena takut pada keintiman itu sendiri.
Tetapkan Batasan (Boundaries) yang Jelas
Memberi ruang bukan berarti membiarkan diri tidak dihargai. Pasangan perlu mengkomunikasikan kebutuhannya dengan tenang dan tidak menuntut, berfokus pada apa yang dirasakan.
Fokus pada Diri Sendiri
Daripada menghabiskan energi menganalisis perilakunya, pasangan sebaiknya mengalihkan fokus itu untuk diri sendiri. Jalani hobi, temui teman, bangun duniamu sendiri. Semakin “aman” dan “utuh” seseorang, semakin kecil kemungkinannya terpicu oleh kebutuhan pasangannya akan ruang.
Sadari Bahwa Pasangan Tidak Bisa “Diperbaiki”
Hanya individu itu sendiri yang bisa berubah. Pasangannya tidak bisa “menyembuhkan” luka masa kecilnya. Tugas pasangan adalah menjadi suportif, tapi tugas pengidap avoidant adalah menyadari polanya dan mau berubah. Idealnya dengan bantuan profesional.
Kunci sukses berhubungan dengan avoidant sejati terletak pada keseimbangan yang rumit: kesabaran dari pasangan untuk memberi ruang tanpa merasa ditolak, dan kemauan tulus dari si avoidant untuk perlahan-lahan belajar percaya dan membuka diri demi hubungan yang sehat. (*)
Editor : Almasrifah