Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Antara Passion dan Tagihan, Realita Pahit Gen Z in This Economy

Khoirun Nisa • Jumat, 31 Oktober 2025 | 08:31 WIB
Ilustrasi.
Ilustrasi.

KALTIMPOST.ID, Gen Z sering disebut sebagai generasi paling idealis. Mereka tumbuh dengan keberanian untuk berkata “tidak”, bahkan kepada sistem kerja yang dianggap tidak manusiawi.

Bagi mereka, bekerja bukan cuma soal gaji, tapi soal makna. Pekerjaan harus punya nilai, ruang tumbuh, dan tidak menggerus kesehatan mental.

Mereka ingin bekerja di tempat yang menghargai keseimbangan hidup, memberi fleksibilitas waktu, dan punya komitmen terhadap isu sosial serta lingkungan.

Budaya lembur, jam kerja kaku, dan kantor yang menuntut kehadiran fisik penuh waktu dianggap sebagai sisa masa lalu yang tidak relevan lagi.

Namun di sisi lain, realita ekonomi tak mengenal idealisme.

Biaya hidup yang kian melambung, inflasi yang tak kunjung mereda, hingga ancaman PHK massal membuat banyak anak muda mulai berpikir ulang.

Pertanyaan yang dulu mereka tanyakan sebelum melamar kerja—“Apakah pekerjaan ini bermakna?” kini bergeser menjadi, “Apakah pekerjaan ini bisa membuatku bertahan hidup?”

Tidak sedikit Gen Z yang akhirnya terjebak dalam paradoks. Mereka ingin fleksibilitas, tapi perusahaan menuntut kehadiran. Mereka menolak lembur, tapi masih membutuhkan tambahan penghasilan. Mereka menginginkan work-life balance, tapi biaya hidup terus menekan.

Pandemi sempat memberi ruang bagi idealisme itu lewat sistem kerja jarak jauh. Tapi pasca-pandemi, banyak perusahaan kembali ke sistem work from office (WFO) penuh waktu. Inilah momen ketika idealisme Gen Z diuji keras.

Apakah mereka bisa tetap idealis di tengah ekonomi yang tidak bersahabat?

Bagi sebagian, jawabannya adalah “tidak, untuk saat ini.”

Mereka memilih kompromi. Fenomena ini dikenal sebagai job hugging: bertahan di pekerjaan yang tidak sepenuhnya mereka cintai, semata demi stabilitas finansial. Idealisme bukan mati, hanya ditunda.

Baca Juga: Menjalin Hubungan dengan ‘Avoidant’ Sejati? 5 Hal Ini Perlu Dipahami

Menyalurkan Idealisme di Tempat Lain

Namun bukan berarti Gen Z menyerah. Mereka hanya memindahkan idealisme ke ruang lain.

Di luar jam kerja, banyak yang membangun side job atau proyek pribadi: berjualan online, membuat konten, membuka jasa freelance, atau membangun brand kecil. Di sanalah mereka bisa bekerja sesuai nilai dan ritme hidup yang diinginkan.

Bekerja dari jam sembilan sampai lima adalah tentang bertahan hidup. Tapi setelah itu, mereka mengejar makna.

Itulah cara Gen Z menyeimbangkan dua dunia yang sering bertentangan: idealisme dan realita.

Di era di mana stabilitas semakin langka, mungkin itulah bentuk kedewasaan baru. Bukan soal meninggalkan prinsip, tapi tahu kapan harus menggenggam, dan kapan harus melepas. (*)

Editor : Almasrifah
#Passion #pekerjaan #idealis #ekonomi #Gen Z