Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Ancaman Baru Bagi Pencari Kerja, Fenomena 'Ghost Job' dan Strategi Perekrutan Bayangan

Ari Arief • Kamis, 20 November 2025 | 13:00 WIB

Ilustrasi pencari kerja
Ilustrasi pencari kerja

KALTIMPOST.ID,JAKARTA-Di tengah ketatnya persaingan di pasar kerja, para pencari kerja kini dihadapkan pada sebuah tantangan digital baru yang disebut 'Ghost Job'. Istilah ini merujuk pada iklan lowongan pekerjaan yang terlihat meyakinkan dan resmi, namun pada kenyataannya, posisi tersebut tidak benar-benar ada atau tidak sedang dalam proses perekrutan aktif.

Fenomena ini semakin meluas, terutama sejak tahun 2024. Survei dari ResumeBuilder.com menemukan fakta mengejutkan sekitar 40 persen perusahaan mengakui telah mempublikasikan lowongan tanpa niat untuk merekrut, dan 30 persen di antaranya membiarkan iklan tersebut tetap aktif selama berbulan-bulan.

Ini mengindikasikan bahwa hampir setengah (empat dari sepuluh) iklan yang beredar di internet berpotensi hanya merupakan lowongan "tipuan".

Data dari Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS) sejak awal 2024 menunjukkan adanya disparitas besar antara jumlah lowongan kerja yang diumumkan dengan jumlah perekrutan yang sesungguhnya terjadi. Selisih antara keduanya mencapai lebih dari 2,2 juta posisi per bulan, sebuah kondisi yang kini dikenal sebagai 'Ghost Job Economy'.

Sektor-sektor yang paling sering menampilkan lowongan fiktif ini meliputi pemerintahan, pendidikan, kesehatan, serta industri informasi dan keuangan. Sebaliknya, industri seperti konstruksi dan perhotelan cenderung lebih transparan karena lowongan mereka umumnya segera terisi.

Baca Juga: Main Game Dibayar Mahal oleh Elon Musk! xAI Buka Lowongan Pelatih Video Game, Gaji Sampai Rp 3,4 Miliar Setahun

Mengapa Perusahaan Memasang Lowongan 'Hantu'?

Brandi Britton, Direktur Eksekutif di perusahaan rekrutmen Robert Half, menjelaskan bahwa banyak iklan dipublikasikan tanpa adanya manajer yang siap merekrut. Beberapa posisi bahkan dibuat tanpa ada intensi untuk mempekerjakan kandidat baru.

"Kadang posisi itu bahkan tidak benar-benar ada... Beberapa perusahaan menganggap ghost job sebagai bagian dari strategi bisnis mereka," kata Britton, dikutip dari Fast Company.

Survei Clarify Capital tahun 2025 terhadap 1.000 perusahaan di AS membenarkan hal ini, mengungkapkan berbagai motif, yaitu  37 persen responden mengaku membiarkan iklan aktif untuk menarik perhatian kandidat potensial dan membangun database pelamar, dan 16 persen berharap bisa menemukan talenta luar biasa yang tak terduga.

Perusahaan lain menggunakannya untuk membangun citra pertumbuhan atau menjaga pipeline pelamar sebagai cadangan jika dibutuhkan penggantian mendadak.

CNBC juga melaporkan bahwa perusahaan di era digital memanfaatkan big data dan teknologi rekrutmen untuk memelihara pipeline kandidat tanpa harus segera melakukan perekrutan jangka pendek. Intinya, banyaknya lowongan yang terlihat belum tentu mencerminkan kebutuhan nyata akan karyawan baru.

Cara Mengenali Lowongan 'Hantu'

Baca Juga: Resmi! Kemnaker Larang Syarat Harus Single dan Berpenampilan Menarik di Lowongan Kerja, Ini Aturan Baru yang Berlaku

Futuris dan komentator ketenagakerjaan, Ben Hamer, memberikan beberapa petunjuk bagi pencari kerja, di antaranya, durasi tayang panjang. "Jika iklan tersebut terlihat sudah ada selama lebih dari 30 hari, kemungkinan besar itu adalah lowongan kerja bayangan," ujarnya kepada ABC RN’s Life Matters.

Deskripsi samar yaitu iklan yang terlalu umum atau samar cenderung palsu. Lowongan yang asli biasanya cukup spesifik mengenai kebutuhan posisi.

Ketidakjelasan kontak dan ini adalah tanda lain yang perlu diwaspadai adalah deskripsi pekerjaan yang terlalu luas, tidak adanya informasi kontak HR, tidak mencantumkan batas waktu lamaran, atau tidak pernah diperbarui.

Tanpa kabar lanjutan adalah pelamar kerja  tidak pernah menerima follow-up atau undangan wawancara selama berbulan-bulan, ada kemungkinan lowongan tersebut adalah ghost job.

Baca Juga: Perusahaan Industri di Kaltim Tembus 35 Ribu Unit, Sektor Ini yang Paling Banyak Menyerap Tenaga Kerja Terbesar

Fenomena ini menimbulkan dampak serius. Pencari kerja membuang waktu berjam-jam untuk menyesuaikan resume dan membuat surat lamaran untuk posisi yang tidak nyata, yang pada akhirnya memicu kekecewaan, frustrasi, dan hilangnya motivasi.

CNBC melaporkan bahwa ghost job bukan hanya menghabiskan waktu, tetapi juga mengikis kepercayaan kandidat terhadap proses rekrutan dan reputasi perusahaan itu sendiri.

Oleh karena itu, sebagian pekerja, terutama di sektor teknologi, menyerukan perlunya regulasi baru yang mewajibkan perusahaan lebih transparan, misalnya dengan mencantumkan batas waktu perekrutan atau jumlah posisi yang benar-benar terbuka.

Ben Hamer mengingatkan bahwa meskipun sebagian iklan mungkin hanyalah proses rekrutmen yang tertunda, sebagian besar posisi tersebut memang tidak pernah dimaksudkan untuk diisi sejak awal, menekankan pentingnya kewaspadaan di pasar kerja digital saat ini.(*)

Editor : Thomas Priyandoko
#waspada #job #ghost #pencari kerja