KALTIMPOST.ID, JAKARTA-Jagat maya sering kali diramaikan oleh testimoni yang bertolak belakang mengenai konsumsi susu saat sahur.
Di satu sisi, banyak yang merasa lebih bertenaga, kenyang lebih lama, dan kondisi fisik tetap stabil hingga berbuka. Namun di sisi lain, tidak sedikit yang justru mengeluh perut melilit, diare, hingga badan terasa lemas dan cepat haus setelah meminumnya.
Perbedaan drastis ini memicu pertanyaan apakah susu sebenarnya mendukung atau justru menghambat kenyamanan berpuasa?
Nutrisi Lengkap, Tapi Bukan "Pemain Tunggal"
Secara medis, susu sangat diperbolehkan untuk dikonsumsi saat sahur. Cairan ini merupakan sumber gizi yang padat karena mengandung protein (whey dan kasein), lemak, karbohidrat laktosa, serta asupan mikronutrien seperti kalsium dan vitamin B kompleks.
Baca Juga: Strategi Menikmati Kopi dan Matcha Saat Ramadan, Hindari Sahur, Pilih Waktu Setelah Berbuka
Kandungan protein di dalamnya terbukti mampu memicu hormon pemberi sinyal kenyang (GLP-1 dan PYY). Meski begitu, mengandalkan susu sebagai satu-satunya menu sahur adalah sebuah kekeliruan.
Efek kenyang yang muncul sering kali bersifat semu. Kalori dalam segelas susu tidak didesain untuk menyuplai energi selama belasan jam.
Kendati demikian, tubuh tetap membutuhkan karbohidrat kompleks sebagai bahan bakar utama yang dilepaskan perlahan.
Kemudian, serat untuk menjaga stabilitas gula darah dan memperlambat pengosongan lambung. Lalu, protein dan lemak tambahan untuk menjaga massa otot dan cadangan energi.
Idealnya, susu diposisikan sebagai pelengkap gizi, bukan pengganti makanan utama. Kombinasi nasi merah atau oat dengan lauk pauk dan sayuran yang ditutup dengan segelas susu akan menciptakan sistem energi berlapis yang membuat puasa terasa lebih ringan.
Risiko di Balik Segelas Susu
Meskipun bergizi, susu bisa menjadi bumerang bagi orang-orang dengan kondisi medis tertentu. Seperti, intoleransi laktosa (masalah umum di Asia).
Banyak masyarakat Indonesia yang secara alami kekurangan enzim laktase. Akibatnya, gula alami dalam susu (laktosa) tidak terserap di usus halus dan justru difermentasi oleh bakteri di usus besar.
Dampaknya? Perut kembung, begah, hingga diare. Jika ini terjadi saat puasa, tubuh akan kehilangan banyak cairan dan memicu rasa haus yang ekstrem sepanjang hari.
Alergi Susu
Berbeda dengan intoleransi, alergi melibatkan sistem imun. Reaksinya bisa lebih serius, mulai dari gatal-gatal, pembengkakan, hingga sesak napas.
Baca Juga: Dinilai Tak Masuk Akal, 743 Siswa di Kubu Raya Kalimantan Barat Boikot Menu Makan Gratis Pemerintah
Jebakan Gula Tambahan
Banyak produk susu olahan atau kebiasaan menambahkan gula pasir ke dalam susu justru merusak manfaatnya.
Lonjakan gula darah yang cepat diikuti penurunan drastis (sugar crash) akan membuat tubuh merasa pusing, lemas, dan lapar hanya beberapa jam setelah subuh.
Minum susu saat sahur bisa menjadi strategi jitu untuk memperkuat daya tahan tubuh selama puasa, asalkan Anda mengenal profil kesehatan pencernaan sendiri.
Pastikan susu dikonsumsi bersamaan dengan makanan bergizi seimbang dan hindari susu dengan kadar gula tambahan yang tinggi.(*)
Editor : Almasrifah