Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Fenomena 'Sekte' Sahur, Pilih Full Karbo atau Full Protein? Kenali Risikonya Agar Tak Zonk

Ari Arief • Sabtu, 28 Februari 2026 | 13:13 WIB

Ramadhan tahun ini, masyarakat terbelah menjadi dua "sekte", kelompok sahur full karbohidrat dan full protein.
Ramadhan tahun ini, masyarakat terbelah menjadi dua "sekte", kelompok sahur full karbohidrat dan full protein.
KALTIMPOST.ID, JAKARTA-Memasuki bulan suci Ramadan, jagat media sosial mulai diramaikan dengan munculnya tren pola makan sahur yang ekstrem. Masyarakat kini terbelah menjadi dua "sekte" besar, kelompok sahur full karbohidrat dan golongan yang hanya mengonsumsi full protein.

Meski masing-masing menawarkan klaim keunggulan, para pakar kesehatan mengingatkan bahwa mengikuti tren tanpa pertimbangan medis bisa membuat tubuh "tekor" di tengah hari.

Alih-alih bertenaga, salah pilih menu sahur justru bisa membuat kondisi fisik merosot tajam, mirip performa klub raksasa Inggris, Chelsea, yang sering kali tidak sesuai ekspektasi meski sudah belanja besar-besaran.

Baca Juga: Jaga Kamtibmas, Polres PPU Gencar Patroli Malam Jelang Sahur

Jebakan 'Lautan Karbo'

Banyak warga Samarinda dan sekitarnya yang masih beranggapan bahwa makan nasi porsi besar ditambah gorengan saat sahur adalah kunci kuat berpuasa hingga Magrib. Namun, realitas biologis berkata sebaliknya.

Menu yang didominasi karbohidrat sederhana, seperti nasi putih dalam jumlah banyak, mi instan, dan minuman manis, memang memberikan rasa kenyang sesaat yang begah. Masalahnya, jenis makanan ini memicu glucose spike atau lonjakan gula darah yang sangat cepat, yang kemudian diikuti dengan penurunan drastis.

Berdasarkan penelitian di jurnal The American Journal of Clinical Nutrition, fluktuasi gula darah yang tajam ini justru memicu hormon lapar (ghrelin) muncul lebih awal. Hasilnya? Belum genap tengah hari, tubuh sudah terasa lemas, kantuk tak tertahankan, dan konsentrasi buyar.

Baca Juga: Hukum Pakai Obat Tetes Mata saat Puasa Ramadhan, Batal atau Tidak? Ini Penjelasan Menurut 4 Mazhab

Ambisi 'Full Protein' yang Berisiko

Di sisi lain, muncul tren sahur hanya dengan ayam, telur, atau daging tanpa menyentuh nasi sedikit pun. Tujuannya adalah memicu tubuh membakar lemak sebagai sumber energi utama. Namun, dr. Raissa E. Djuanda, SpGK, dokter spesialis gizi klinik, memberikan catatan kritis.

"Secara teori ada benarnya, tapi tubuh tidak sesederhana itu. Saat puasa, otak dan sel darah merah tetap memerlukan glukosa," ungkap dr. Raissa.

Ia memperingatkan bahwa jika karbohidrat terlalu rendah secara ekstrem, tubuh justru bisa memecah protein otot, bukan hanya lemak. "Tren ini berisiko membuat seseorang lebih cepat dehidrasi, sulit berkonsentrasi, hingga mengalami sembelit karena minim serat," tambahnya.

Baca Juga: Warga Kota Balikpapan Siap-siap Borong Sale Ramadan di Glorious Season 2026 Plaza Balikpapan

Solusi Piring Seimbang adalah Kunci

Agar ibadah puasa tetap produktif, kunci utamanya bukanlah pada jumlah satu jenis zat gizi, melainkan keseimbangan komposisi di atas piring sahur. Ilmu gizi tetap menganjurkan kombinasi antara karbohidrat kompleks, protein, lemak sehat, dan serat.

Rekomendasi menu sahur stabil adalah mempertimbangkan sumber energi dengan nasi merah atau gandum (melepas energi secara perlahan). Lauk-pauk kombinasi protein hewani dan nabati (telur, ayam, tahu, atau tempe). Lemak dan serat dengan menu alpukat, kacang-kacangan, serta sayuran dan buah yang kaya air untuk menjaga hidrasi.

Dengan komposisi yang pas, energi akan terlepas secara stabil sepanjang hari, sehingga aktivitas harian tetap terjaga tanpa gangguan rasa lapar yang datang terlalu dini.(*)

Baca Juga: Mobil Dinas Gubernur Kaltim Rp 8,5 M Masih Disorot, Kini DPRD Kaltim Malah Anggarkan Rp 6,8 M untuk Kendaraan Operasional

Editor : Almasrifah
#sahur #gula darah #karbohidrat #fisik