KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Asap tipis mengepul di sela obrolan santai di sebuah tongkrongan. Bagi Adi, momen nongkrong tanpa vape terasa ada yang kurang. Padahal, beberapa tahun lalu, kebiasaannya hanya sebatas rokok konvensional.
Adi, seorang marketing yang sehari-hari bekerja dengan sistem canvasing mengaku mulai merokok sejak lulus SMA, sekitar 2020. Kebiasaan itu berjalan seperti kebanyakan anak muda lain, sekadar ikut-ikutan hingga akhirnya menjadi rutinitas. Namun, pada 2023 dia mulai mengenal vape dari temannya. “Awalnya cuma coba punya teman. Penasaran aja,” ujarnya.
Sejak saat itu, Adi perlahan beralih. Menurutnya, sensasi yang diberikan vape tidak jauh berbeda dengan rokok. Namun, ada satu hal yang membuatnya bertahan, yakni perasaan lebih ringan. “Rasanya lebih ringan, tapi sensasinya mirip rokok. Jadi kayak lebih enak aja,” katanya.
Baca Juga: Sering Dianggap Aman, Ternyata Vape Sama Bahayanya dengan Rokok! Dokter Ungkap Fakta Mengerikan Ini
Tak hanya soal rasa, ada persepsi lain yang turut memengaruhi pilihannya. Adi merasa vape cenderung lebih aman dibanding rokok, meski dia sendiri tak benar-benar mendalami informasi tersebut. “Kayak lebih aman aja dibanding rokok,” tambahnya.
Kini, kebiasaan itu semakin melekat dalam kesehariannya. Pekerjaannya sebagai marketing lapangan membuatnya lebih fleksibel untuk menggunakan vape, terutama saat jeda di sela aktivitas canvasing. “Kalau lagi di luar apalagi jam makan siang, ya ngebul dulu sebentar,” ujarnya lalu terkekeh.
Dalam sehari, Adi hampir tak pernah absen menggunakan vape. Bahkan, dia harus mengisi ulang cairan (liquid) setiap satu hingga dua hari sekali. Kebutuhan itu juga dipermudah karena memiliki kenalan yang bekerja di toko vape, sehingga pasokan liquid selalu tersedia.
Berkaca dari maraknya isu penyalahgunaan vape yang disusupi zat berbahaya, Adi mengaku mulai lebih berhati-hati. Dia memilih hanya menggunakan liquid dari tempat yang sudah dikenal, serta menghindari mencoba vape milik orang lain, meski ditawarkan saat nongkrong. Baginya, langkah sederhana itu jadi cara untuk mengurangi risiko tanpa harus langsung meninggalkan kebiasaan yang sudah terlanjur melekat.
Baca Juga: Dampak Kenaikan BBM Pertamina April 2026 bagi Perekonomian Kaltim
Namun, di balik kebiasaan yang terasa santai, Adi mengakui ada ketergantungan yang mulai terbentuk. Dia merasa kesulitan jika harus mengurangi, terutama saat berkumpul bersama teman. “Kalau nongkrong cuma ngopi doang kayak aneh. Pasti sambil ngevape,” katanya.
Lingkungan pertemanan turut memperkuat kebiasaan tersebut. Di tongkrongannya, hampir semua orang menghisap asap, baik rokok maupun vape. Situasi itu membuat aktivitas tersebut terasa wajar, bahkan menjadi bagian dari interaksi sosial. “Semua teman tongkrongan rata-rata ngerokok atau vape. Jadi ya biasa aja,” ungkapnya.
Bagi Adi, vape bukan lagi sekadar alternatif rokok, melainkan sudah menjadi bagian dari gaya hidup. Ada rasa senang yang muncul, terutama ketika momen berkumpul ditemani kepulan asap.
Meski demikian, tanpa disadari, kebiasaan yang berawal dari rasa penasaran itu kini berkembang menjadi rutinitas yang sulit dilepaskan. Sebuah gambaran bagaimana tren di kalangan anak muda bisa berubah menjadi kebutuhan, bukan hanya secara fisik, tetapi juga sosial. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo