Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Vape Dianggap Lebih Aman, Psikolog: Itu Sekadar Ilusi yang Dibentuk Branding

Raden Roro Mira Budi Asih • Sabtu, 18 April 2026 | 19:43 WIB
ILUSI: Psikolog Klinis Wahyu Nhira Utami mengingatkan bahaya vape.
ILUSI: Psikolog Klinis Wahyu Nhira Utami mengingatkan bahaya vape.

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Anggapan bahwa vape lebih aman dibanding rokok konvensional masih kuat di kalangan masyarakat, terutama anak muda. Padahal, persepsi tersebut dinilai tidak lepas dari pengaruh branding yang sejak awal membentuk cara pandang publik.

Psikolog Klinis Wahyu Nhira Utami menyebut, munculnya vape sejak awal memang dibarengi narasi lebih sehat dibanding rokok. Hal itu kemudian tertanam dan terus berkembang di masyarakat. “Dulu awal-awal vape itu muncul, di-branding seolah-olah lebih sehat. Cara baru, gaya baru,” ujarnya.

Menurutnya, konsep yang dikenal sebagai harm reduction turut memperkuat persepsi tersebut. Vape diposisikan sebagai alternatif dengan dampak yang dianggap lebih ringan, meski pada kenyataannya belum tentu demikian. “Seolah-olah ini lebih aman, dampak buruknya lebih sedikit. Padahal itu juga bagian dari teknik marketing,” jelasnya.

Baca Juga: Ngeri! Berawal dari 'Cuma Penasaran', Pria Ini Ungkap Sulitnya Lepas dari Jeratan Vape

Dia mengibaratkan strategi tersebut seperti produk makanan yang diklaim lebih sehat karena proses atau bahan tertentu, padahal tetap memiliki risiko tersendiri. “Enggak jauh beda kayak mie instan yang dibilang dipanggang, jadi terkesan lebih sehat. Itu kan sebenarnya bagian dari branding,” tambah psikolog RSUD Abdul Wahab Sjahranie (AWS) Samarinda tersebut.

Selain narasi, kemasan vape juga dinilai berperan besar dalam membentuk persepsi. Aroma buah hingga rasa dessert membuat vape terkesan tidak berbahaya. “Karena rasanya buah, dessert, jadi kesannya ini sesuatu yang tidak membahayakan. Itu menanamkan persepsi di kepala bahwa ini aman,” ungkapnya.

Padahal, lanjutnya, vape tetap mengandung nikotin yang memiliki dampak terhadap tubuh. Namun, persepsi yang sudah terbentuk membuat banyak orang cenderung mengabaikan risiko tersebut.

Fenomena tersebut, kata Nhira, juga berkaitan dengan distorsi kognitif atau kesalahan dalam berpikir. Salah satunya adalah optimism bias, di mana seseorang merasa risiko buruk tidak akan terjadi pada dirinya. “Kita merasa penyakit serius itu terjadi pada orang lain, bukan pada kita. Itu ilusi yang ada di otak,” jelasnya.

Baca Juga: Sering Dianggap Aman, Ternyata Vape Sama Bahayanya dengan Rokok! Dokter Ungkap Fakta Mengerikan Ini

Akibatnya, meski informasi mengenai risiko sudah banyak beredar, tidak sedikit yang tetap menganggap vape sebagai pilihan yang lebih aman. “Jadi narasi itu yang akhirnya diterima masyarakat, terutama anak muda,” tutupnya. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#Bahaya Vape #Branding vape sehat #distorsi kognitif vape #risiko vape bagi anak muda