UJOH BILANG — Tepian Sungai Mahakam di Kampung Mamahak Ulu Kecamatan Long Bagun tampak lebih hidup, Jumat (12/12). Setelah proses pemeliharaan sejak Agustus, puluhan warga menyaksikan panen perdana budidaya keramba jaring apung (KJA). Bupati Mahakam Ulu Angela Idang Belawan hadir langsung dan menyebut panen ini sebagai bukti kuatnya kerja sama tim dan gotong royong warga.
“Tanpa kerja sama tim, panen hari ini tidak akan terjadi,” tegas Angela. Ia memberikan apresiasi kepada jajaran kampung dan kelompok pembudidaya yang sejak penebaran 48.700 benih ikan mas pada 28 Agustus lalu terus menjaga keramba hingga panen.
Program yang memanfaatkan aliran Mahakam sebagai kolam alami kini mengelola 88 unit keramba, menghasilkan ikan dengan berat 700 –1000 gram. Angela menyebut capaian ini sebagai bukti bahwa masyarakat Mamahak Ulu mampu mengelola potensi sumber daya dengan berkelanjutan dan memberi dampak ekonomi nyata.
Dalam wawancara usai panen, Angela menegaskan bahwa Mamahak Ulu disiapkan menjadi sentra pembudidayaan ikan pada 2027. Kampung ini dianggap memiliki perencanaan matang dan fasilitas pelatihan yang sudah siap dimanfaatkan.
“Kampung ini punya plan yang luar biasa. Kita jadikan pilot project. Harapannya, 2027 Mamahak Ulu benar-benar menjadi sentra budidaya ikan. Kampung lain bisa belajar ke sini tanpa harus keluar daerah,” ujarnya.
Angela menjelaskan, program penguatan pangan yang berjalan saat ini selaras dengan RPJMN dan diadopsi dalam RPJMD Mahulu. Menurutnya, budidaya ikan di kampung bisa menjadi solusi dua arah: memenuhi kebutuhan pangan keluarga dan membuka ruang peningkatan ekonomi.
“Kalau produksinya terus meningkat, bukan tidak mungkin nanti kita yang kirim ikan ke Kubar, bukan sebaliknya,” katanya.
Potensi Ikan Sungai Bernilai Tinggi: Tebelaq
Angela juga menyoroti potensi pengembangan ikan sungai lokal, salah satunya ikan tebelaq, komoditas yang dikenal sulit ditemukan namun bernilai jual sangat tinggi.
Ia mengungkapkan, ada warga Mamahak Ulu yang telah berhasil mengembangbiakkan ikan tebelaq secara mandiri. “Sudah ada satu orang yang berhasil mengembangbiakkan ikan tebelaq. Ini contoh baik. Nanti bisa kita minta jadi pelatih atau narasumber,” jelasnya.
Ikan tebelaq memiliki nilai ekonomi yang menggiurkan. “Harganya bisa Rp800 ribu sampai Rp1 juta per kilogram. Negara tetangga juga menyukainya. Makanya potensinya besar sekali,” ungkap Angela.
Ia menegaskan bahwa Pemkab Mahulu akan mendalami teknik budidayanya agar dapat dikembangkan secara lebih luas. “Kita harus cari tahu bagaimana pembiakannya supaya bisa dibudidayakan, bukan hanya ditangkap,” tambahnya.
Angela juga memberi tiga pesan utama kepada para pembudidaya. Pertama keramba harus rutin dikontrol, terutama saat debit air Mahakam meningkat. Kedua, pengelolaan pakan harus efisien karena menjadi komponen biaya terbesar. Ketiga, kembangkan ragam komoditas, seperti patin, lele, dan mujair, selama sesuai dengan karakter sungai.
Angela berharap keberhasilan Mamahak Ulu menjadi model bagi kampung lain di Mahakam Ulu dalam memperkuat ketahanan pangan sekaligus membuka peluang ekonomi.
Editor : Muhammad Ridhuan