KALTIMPOST.ID, UJOH BILANG – Kepolisian Resor (Polres) Mahakam Ulu (Mahulu) memperkuat kesiapsiagaan menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) memasuki puncak musim kemarau. Namun, dalam dua hari terakhir belum ditemukan adanya titik api di wilayah hukum Polres Mahulu.
Wakapolres Mahulu Kompol Djoko Purwanto mengatakan, periode Agustus hingga Desember menjadi masa yang perlu diwaspadai karena kondisi cuaca yang semakin kering berpotensi memicu munculnya titik panas maupun kebakaran lahan.
Baca Juga: Forum Ekraf Balikpapan Utara Audiensi dengan Camat, Bahas Sinergi Pentahelix
Hal tersebut disampaikannya usai mengikuti apel kesiapsiagaan karhutla di Mahulu, Kamis (13/8). “Itu menjadi agenda rutin kita setiap tahun. Mulai Agustus sampai Desember, memasuki musim-musim kemarau, kita mulai ada titik-titik api,” ujar Djoko.
Menurutnya, pemantauan titik panas dilakukan dengan memanfaatkan teknologi. Polda Kalimantan Timur memiliki aplikasi Lembuswana yang dapat digunakan anggota Polri maupun masyarakat umum untuk memantau informasi titik panas hasil pemetaan satelit.
“Di Polda Kalimantan Timur ada aplikasi namanya Lembuswana. Itu bisa di-download, baik anggota Polri maupun orang umum,” jelasnya.
Melalui sistem tersebut, titik-titik panas yang terdeteksi satelit akan dipetakan dan informasi selanjutnya dapat diketahui oleh jajaran di wilayah masing-masing.
Baca Juga: Kapal Barang Hanya Mampu Capai Melak, Pertamina Sesuaikan Pengiriman hingga Wilayah Hulu
Jika ditemukan titik panas di wilayah hukum Polres Mahulu, personel terdekat akan segera diarahkan untuk melakukan pengecekan ke lokasi. Misalnya, apabila titik api terdeteksi di wilayah Kecamatan Long Apari, personel atau kepolisian terdekat akan diturunkan untuk memastikan kondisi di lapangan.
“Anggota polisi yang terdekat di situ, mungkin Polsek Apari dan anggotanya, mendatangi TKP karhutla, memadamkan, kemudian didokumentasikan dan dilaporkan di aplikasi,” katanya.
Djoko menyebut, berdasarkan pemantauan selama dua hari terakhir, belum ditemukan titik api di wilayah Mahulu. “Untuk dua hari ini alhamdulillah tidak ada. Di Mahulu nihil,” ungkapnya. Kondisi tersebut diharapkan dapat dipertahankan meski musim kemarau masih berlangsung. Djoko mengingatkan, kondisi cuaca saat ini perlu mendapat perhatian karena wilayah Mahulu disebut telah mengalami sekitar tiga pekan tanpa hujan. “Masih dua hari. Mudah-mudahan berkurang terus,” ujarnya.
Baca Juga: KONI Kaltim Kaji Alternatif Hindari Pemangkasan Cabor di Porprov VIII
Menurutnya, kemarau panjang menjadi salah satu faktor yang meningkatkan risiko terjadinya karhutla. Namun, faktor manusia juga menjadi perhatian karena aktivitas masyarakat dalam membuka lahan dapat memicu kebakaran apabila tidak dilakukan dengan cara yang aman.
Karena itu, Polres Mahulu bersama jajaran terkait terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara yang berpotensi menyebabkan kebakaran meluas.
“Kita selalu sosialisasikan kepada masyarakat supaya sadar terhadap kebakaran lahan ini. Kalau memang membuka ladang, dibuat kanal-kanal dulu atau parit-parit dulu,” jelas Djoko.
Ia berharap kesadaran masyarakat semakin meningkat sehingga potensi karhutla dapat ditekan sejak awal.
Menurutnya, pencegahan jauh lebih penting daripada menunggu api membesar. Dengan pemantauan titik panas melalui satelit, kesiapan personel di lapangan serta keterlibatan masyarakat, potensi karhutla di Mahulu diharapkan dapat dikendalikan sejak dini. “Yang penting bagaimana kita bersama-sama mencegah supaya tidak terjadi kebakaran hutan dan lahan,” pungkasnya. (*)
Editor : Dwi Restu A