KALTIMPOST.ID, MAHULU – Tantangan geografis yang berat di kawasan pedalaman membuat Pemerintah Kabupaten Mahakam Ulu mendorong tersedianya ambulans terbang. Keberadaan sarana transportasi udara ini dinilai sangat mendesak untuk mempercepat evakuasi medis darurat warga menuju rumah sakit rujukan.
Kebutuhan armada evakuasi udara mencuat seiring pembangunan Rumah Sakit Kelas C RSUD Gerbang Sehat Mahakam (GSM) yang dinilai belum sepenuhnya menjawab kendala layanan kesehatan. Akses transportasi yang serbaterbatas kerap memperlambat tindakan penanganan pasien gawat darurat.
Baca Juga: Bukan Sekadar Kejar Target, Bupati Mahulu Tak Mau Bangunan Rumah Sakit Dikerjakan Asal-asalan
Bupati Mahulu Angela Idang Belawan menyampaikan dorongan ini saat meninjau langsung progres pembangunan RS Kelas C GSM di Ujoh Bilang. Ia menegaskan perlunya alternatif evakuasi medis berkecepatan tinggi saat jalur darat maupun sungai tidak memungkinkan untuk dilintasi.
"Harapan saya di kemudian hari Mahakam Ulu bisa mendapatkan ambulans terbang yang bisa kita gunakan," tutur Angela.
Angela menjelaskan, bentang wilayah Mahulu yang sangat luas menuntut kecepatan tindakan medis demi menyelamatkan nyawa masyarakat. Pada kondisi tertentu, jalur transportasi konvensional sama sekali tidak dapat diandalkan akibat kendala alam dan cuaca.
Baca Juga: HUT Ke-71 Lalu Lintas, Satlantas Polres PPU Gelar Donor Darah Bersama TNI dan Bhayangkari
"Karena akses darat maupun akses air yang biasanya kita gunakan saat ini dalam kondisi tertentu tidak bisa dipakai sama sekali," ungkapnya.
Saat ini, Pemkab Mahulu sejatinya terus berupaya membenahi konektivitas antarwilayah secara bertahap. Salah satu rute darat yang sedang diupayakan pembukaannya adalah poros dari Long Pakaq menuju Tiong Ohang.
Namun, perbaikan rute darat tersebut masih menghadapi rintangan berat di lapangan. Sejumlah titik jalan dilaporkan mengalami kerusakan parah hingga terputus akibat bencana longsor.
Baca Juga: Sengketa Lahan IKN, BPN PPU Minta Partai Buruh Langsung Layangkan Gugatan Perdata ke Pengadilan
"Kami mengusahakan akses darat dari Long Pakaq hingga Tiong Ohang, tetapi memang ada beberapa spot yang saat ini sudah longsor berat," jelas Angela.
Kondisi lapangan tersebut membuktikan bahwa pembenahan layanan kesehatan di Mahulu bukan sekadar perkara mendirikan bangunan fisik rumah sakit. Infrastruktur transportasi dan keandalan sistem rujukan justru memegang peran penentu dalam keselamatan pasien.
Karena itu, pembangunan RS Kelas C GSM harus menjadi bagian utuh dari penguatan sistem pelayanan kesehatan di daerah pedalaman dan perbatasan. Posisi kampung-kampung yang terpencil membutuhkan sistem rujukan yang bisa bergerak cepat saat terjadi kondisi darurat medis.
Baca Juga: Sambo Balikpapan Sudah 70 Persen, Dispensasi Atlet Masih Jadi Kendala
Angela meminta pemerintah pusat memberikan perhatian khusus bagi kawasan tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Terlebih, program percepatan pembangunan wilayah 3T merupakan komitmen prioritas nasional.
"Kebutuhan kami adalah apa yang telah dicanangkan oleh Bapak Presiden. Kami yang berada di pedalaman, di perbatasan, di 3T, harus mendapatkan perhatian lebih dan perhatian khusus," kata Angela.
Dia menegaskan, kendala transportasi dan jarak tempuh tidak boleh lagi menjadi penghalang bagi warga pelosok untuk memperoleh pertolongan medis segera. Risiko keterlambatan rujukan selama ini menjadi ancaman nyata bagi keselamatan pasien kritis.
Baca Juga: Pemadaman Listrik di Kubar Hari Ini, PLN Melak Ungkap Penyebabnya
"Sehingga tidak ada ibu hamil yang berisiko meninggal dunia maupun masyarakat dengan penyakit menahun yang membutuhkan rujukan segera tidak bisa mendapatkan pelayanan dengan baik," pungkasnya.
Melalui penguatan jalur evakuasi medis udara, pemerintah daerah berharap kesenjangan akses pertolongan darurat bagi masyarakat di pelosok Mahulu dapat teratasi secara tuntas. (*)
Editor : Dwi Restu A