KALTIMPOST.ID- Dari Samarinda pukul 13.00 Wita hingga hampir tengah malam. Sebuah perjalanan pulang bukan sekadar berpindah tempat, tetapi seperti membuka kembali halaman kehidupan yang lama ditinggalkan.
Hujan turun ketika perjalanan mulai memasuki sekitar Kota Bangun, Kutai Kartanegara. Titik-titik air berkejaran di kaca depan mobil. Wiper bergerak berulang kali, menyapu pandangan yang sesekali buram. Saya duduk di dalam travel bersama istri dan anak. Perjalanan sudah berlangsung beberapa jam sejak meninggalkan Samarinda sekitar pukul 13.00 Wita.
Di telinga, headset bluetooth menyala. Lagu In My Place milik Coldplay mengalun pelan. Entah mengapa, lagu itu terasa berbeda sore itu. Mungkin karena perjalanan ini bukan perjalanan biasa. Sudah sekitar delapan tahun saya tidak pulang ke Kampung Kiaq, Kecamatan Siluq Ngurai, Kutai Barat. Terakhir kali pulang, tahun 2018.
Saat itu, saya baru sekitar dua tahun berada di Kaltim Post. Kini saya kembali dengan keadaan yang jauh berbeda. Saya membawa istri. Membawa seorang anak yang kini sudah duduk di TK kecil. Dan untuk pertama kalinya, saya mendapatkan cuti panjang dan menyempatkan pergi ke kampung empat hari.
Bagi sebagian orang mungkin biasa saja. Bagi seseorang yang bertahun-tahun bekerja jauh dari kampung halaman, empat hari terasa seperti kesempatan untuk menarik napas panjang. Kembali melihat tempat dari mana semuanya bermula. Di tengah perjalanan itulah In My Place terdengar seperti lagu yang sengaja hadir untuk menemani ingatan. Bukan karena liriknya harus ditafsirkan secara khusus.
Tetapi alunannya membuat perjalanan pulang terasa lebih dalam. Seolah jalan yang kami lewati bukan hanya jalan menuju kampung. Melainkan jalan menuju masa lalu.
Dari Samarinda, Jalan Terasa Bersahabat
Perjalanan awal relatif lancar. Jalan-jalan di wilayah Kutai Kartanegara masih terasa bersahabat. Mobil bisa bergerak dengan kecepatan normal. Hingga hujan datang di sekitar Kota Bangun. Pemandangan di luar jendela berubah.
Pepohonan dan bentang alam yang sebelumnya terlihat jelas mulai tersamar air hujan. Di dalam mobil, perjalanan berlangsung sebagaimana perjalanan jauh pada umumnya. Ada percakapan pendek, ada diam, ada sesekali melihat pemandangan dari balik kaca.
Namun suasana berubah ketika kendaraan mulai masuk wilayah Kutai Barat. Perbedaannya terasa. Kalau dari Samarinda hingga sebagian wilayah Kukar perjalanan terasa cukup mulus, memasuki ruas jalan menuju Kubar membuat perjalanan seperti memasuki dunia lain. Kecepatan kendaraan perlahan turun.
Bukan karena sopir tidak ingin melaju. Tetapi jalan memang tidak memungkinkan. Lubang ada di banyak tempat. Jalan berkelok. Kendaraan harus terus melakukan manuver untuk mencari bagian jalan yang masih bisa dilewati dengan aman.
Perjalanan yang seharusnya bisa ditempuh dengan kecepatan normal berubah menjadi perjalanan penuh kehati-hatian. Sesekali kami berpapasan dengan truk-truk besar. Bak belakangnya ditutup terpal. Saya sempat memperhatikannya. "Apa yang mereka bawa?" pikir saya.
Entah mengapa, saya membayangkan sesuatu yang berharga tersimpan di balik terpal itu. Mungkin hasil bumi. Mungkin material. Mungkin sesuatu yang tidak pernah saya ketahui. Truk-truk itu menjadi bagian dari pemandangan perjalanan malam menuju hulu.
Anak Saya Mendapat 'Jackpot' di Jalan Kubar
Perjalanan panjang akhirnya mulai terasa bagi anak saya. Jalan yang berkelok-kelok, ditambah kendaraan yang harus berkali-kali menghindari lubang, membuat tubuh kecilnya tidak mampu bertahan. Ia muntah. Kami menyebutnya jackpot.
Tidak ada yang bisa dilakukan selain membersihkan dengan tisu basah dan tisu kering sembari meminta maaf kepada sopir travel dengan terus melanjutkan perjalanan. Sebagai orang tua, kejadian kecil seperti itu membuat perjalanan terasa lebih panjang. Sesekali saya melihat ke arahnya. Kapok enggak ya dalam pikirku.
Anak yang selama ini lebih banyak mengenal kampung melalui cerita kini benar-benar sedang menuju tempat yang selama ini mungkin hanya ia dengar dari percakapan orang tuanya. Ia belum tahu seperti apa Kiaq. Belum tahu seperti apa rumah neneknya. Belum tahu seperti apa kehidupan yang pernah menjadi bagian dari masa kecil bapaknya. Tetapi malam itu, ia sedang menuju ke sana.
Kem Baru dan Paman yang Pernah Menjemput Saya
Lewat pukul 20.00, kami tiba di kawasan Kem Baru, Kecamatan Jempang. Namun kami belum langsung berhenti di rumah paman. Sekitar pukul 21.00, akhirnya kendaraan tiba di rumah Paman Yanto. Sudah beberapa tahun Paman Yanto tinggal dengan cara mengontrak di sana.
Dulu, ketika masih SMA dan tinggal di Asrama Melati, Paman Yanto adalah salah satu orang yang sering mengantar-jemput saya di Linggang Bigung. Maklum SMA yang ada asramanya cuma disana ditempuh selama 3 sampai 4 jam menuju kesana.
Kini, bertahun-tahun kemudian, saya datang kembali. Paman tampak senang melihat keponakannya pulang. Mungkin bukan karena saya membawa sesuatu yang istimewa. Tetapi karena setelah sekian lama, akhirnya saya datang juga. Saya bercerita bahwa kali ini baru mendapatkan kesempatan mengambil cuti cukup panjang. "Dua minggu," kata saya.
Sekalian karena istri sedang wisuda. Istri Paman Yanto, Tante Wiwik, juga tampak gembira. Pertanyaan pertama yang keluar justru sederhana. "Sudah makan kah kalian?" "Belum," jawab saya.
Tante Wiwik langsung bergerak. Ia mengambil motor matik dan bersiap keluar. Sebelum pergi, ia masih sempat bertanya kepada kami. "Mau makan apa?" Anak saya langsung menjawab. "Chicken."
Jawaban yang sederhana. Tante Wiwik pun berangkat.. Kami menunggu. Ternyata cukup lama. Belakangan saya baru tahu, kedatangan kami memang sangat dinanti. Tante Wiwik ternyata ingin makan bersama. Pesanan dibuat cukup banyak. Malam itu bukan sekadar beli makan. Ada cerita yang ikut tersaji di meja warung Saya dan paman kemudian ngobrol santai. Tentang pekerjaan. Tentang perjalanan.
Tentang kondisi jalan. Tentang mengapa baru sekarang pulang. Pertanyaan-pertanyaan sederhana dari keluarga yang sudah lama tidak bertemu. Sampai kemudian muncul pertanyaan yang membuat kami kembali melihat jam. "Mau naik kapan?" Maksudnya, kapan melanjutkan perjalanan menuju Kiaq. Saya hanya tersenyum. "Beh, terserah sopir." Kami bertiga memang hanya penumpang.
Tidak punya banyak pilihan selain mengikuti waktu dan kondisi perjalanan. Sekitar pukul 21.30, setelah menunggu cukup lama beli makan, perjalanan kembali dilanjutkan. Usai kami sepakat makannya nanti pas di Kiaq.
Kem Baru yang Berubah
Kali ini kami menggunakan mobil Paman Yanto. Sepanjang perjalanan, ia mulai bercerita tentang perubahan Kem Baru. Menurutnya, kawasan itu sekarang semakin ramai. Ada satu alasan yang cukup kuat: sawit. Produktivitas kebun sawit semakin terlihat.
Di sisi lain, keberadaan markas TNI di kawasan bekas tambang Bayan juga ikut mengubah suasana kawasan. Sambil mengemudi, paman menunjuk beberapa lokasi. "Itu punya siapa." "Itu dulu begini." "Itu sekarang sudah berubah."
Saya memperhatikan dari dalam mobil. Malam membuat sebagian besar pemandangan hanya terlihat dalam bentuk siluet. Tetapi suara paman membuat tempat-tempat itu seperti kembali memiliki bentuk. Ia bukan hanya menunjukkan lokasi. Ia sedang membuka kembali peta ingatan.
Ketika Sawit Mengubah Wajah Kampung
Memasuki jalan bekas perusahaan kayu untuk menuju Kiaq, ada sesuatu yang langsung menarik perhatian saya. Pohon-pohon palma.
Di kiri dan kanan jalan, sawit semakin dominan. Saya teringat jalan tanah ini yang saya kenal dulu berbeda. Dulu, pohon yang terlihat lebih beragam. Ada karet. Ada pohon buah-buahan. Ada berbagai jenis tanaman yang tumbuh di sekitar kampung.
Kini pemandangannya berubah. Sawit muncul semakin banyak. Dan perubahan itu membuat saya teringat satu hal. Ketika masih SMA, perusahaan-perusahaan sawit sudah mulai menanam di kawasan tersebut. Waktu itu mungkin sebagian orang belum terlalu memikirkan bagaimana kebun-kebun itu akan terlihat belasan tahun kemudian.
Sekarang jawabannya mulai terlihat. Pohon yang dulu masih kecil telah tumbuh. Kini waktunya menghasilkan. Dulu menanam, sekarang memanen. Sementara masyarakat, dalam pengamatan saya, tampaknya datang lebih belakangan dalam perubahan tersebut. Paman Yanto juga menunjukkan beberapa lahan milik warga.
Saya bertanya tentang hasil kebunnya. Ia hanya tersenyum. Sekitar tiga sampai lima ton per bulan. Tidak terdengar besar jika dibandingkan dengan skala perkebunan perusahaan.
Tetapi bagi paman, itu sudah cukup. "Cukuplah buat kami," kira-kira begitu maknanya. Untuk dirinya, Tante Wiwik dan dua anaknya. Di situlah saya kembali menyadari bahwa angka produksi tidak selalu harus dibaca dalam skala industri.
Tiga ton bagi perusahaan mungkin hanya angka. Tetapi bagi sebuah keluarga, tiga ton bisa berarti biaya sekolah, kebutuhan dapur, listrik, transportasi dan kehidupan sehari-hari. (bersambung/riz)
Editor : Muhammad Rizki