KALTIMPOST.ID, LONG PAHANGAI – Kondisi kemarau menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten Mahakam Ulu (Pemkab Mahulu) dalam pelaksanaan Program Rukun Tetangga (RT) dan Dasawisma di Kecamatan Long Apari.
Bupati Mahulu Angela Idang Belawan meminta pengurus RT dan Dasawisma tidak hanya menjalankan program pemberdayaan, tetapi juga ikut memperhatikan kebutuhan dasar masyarakat selama kondisi kering berlangsung.
Baca Juga: Bupati Mahulu Dorong Dasawisma Tak Sebatas Administrasi, Tenaga Ahli Harus Dilibatkan
Hal tersebut disampaikan Angela saat meluncurkan Program RT dan Dasawisma Kecamatan Long Apari di Long Apari, Rabu (7/10).
Menurut Angela, kemarau dapat berdampak terhadap berbagai aspek kehidupan masyarakat, terutama ketersediaan air, pangan, kesehatan keluarga, dan kebutuhan dasar lainnya.
Baca Juga: Dari RT hingga Keluarga, Pemkab Mahulu Ingin Program Pemberdayaan Beri Manfaat Nyata
Ia mengatakan kondisi tersebut perlu diantisipasi sejak tingkat keluarga dan lingkungan. RT dan Dasawisma dinilai memiliki posisi penting karena berada paling dekat dengan masyarakat.
“Kegiatan ini kita laksanakan bertepatan dengan kondisi kemarau yang masih perlu kita waspadai,” kata Angela.
Ia menyebut berdasarkan catatan BMKG, kondisi kering masih berlangsung di sejumlah wilayah Indonesia pada awal Oktober 2026. Untuk Oktober, Mahulu termasuk wilayah Kalimantan Timur (Kaltim) yang diprediksi mengalami curah hujan rendah.
Karena itu, Angela meminta pengurus RT dan Dasawisma lebih aktif melihat kondisi masyarakat di wilayah masing-masing. “Dalam kondisi seperti ini, saya meminta RT dan Dasawisma memberi perhatian lebih terhadap ketersediaan air, pangan, kesehatan keluarga, dan kebutuhan dasar masyarakat,” ujarnya.
Baca Juga: Giliran Kecamatan Long Apari Jalankan Program RT dan Dasawisma
Menurutnya, persoalan yang ditemukan di tingkat keluarga tidak boleh dibiarkan tanpa koordinasi. Setiap masalah yang muncul di lingkungan masyarakat harus segera disampaikan kepada pemerintah kampung agar dapat ditangani sesuai kewenangan.
“Setiap persoalan yang ditemukan di tingkat keluarga maupun lingkungan agar segera disampaikan dan dikoordinasikan dengan Petinggi Kampung,” katanya.
Pesan tersebut menjadi salah satu penekanan dalam peluncuran program RT dan Dasawisma Long Apari. Pemerintah daerah ingin agar program pemberdayaan masyarakat juga memiliki fungsi untuk memperkuat ketahanan keluarga menghadapi kondisi yang terjadi di lapangan.
Program Dasawisma sendiri merupakan bagian dari Program Ketahanan Keluarga Mahulu dengan dukungan anggaran Rp5 juta hingga Rp10 juta per Dasawisma per tahun.
Angela berharap pengurus Dasawisma dapat memanfaatkan program tersebut untuk menjawab kebutuhan masyarakat sekaligus membangun kemandirian keluarga.
Di tengah kondisi kemarau, pemerintah daerah juga menyatakan akan terus memantau perkembangan di lapangan dan memberikan dukungan sesuai kemampuan daerah serta kebutuhan masyarakat. (*)
Editor : Sukri Sikki