Bupati Angela Ajak Orangtua Bangun Bonding Anak Lewat Dongeng, Kurangi Ketergantungan Gadget

Jody Kristianto • Dipublikasikan Kamis, 8 Oktober 2026 | 08:42 WIB
Bupati Angela Idang Mahulu bacakan dongeng kepada anak-anak PAUD sekaligus edukasi kepada orang tua pentingnya ajak cerita buah hati di Balai Adat Tiong Bu
Bupati Angela Idang Mahulu bacakan dongeng kepada anak-anak PAUD sekaligus edukasi kepada orang tua pentingnya ajak cerita buah hati di Balai Adat Tiong Bu'u, Rabu (7/10/2026). (JODY KRISTIANTO/KP)

 

KALTIMPOST.ID, LONG PAHANGAI – Suasana hangat terlihat ketika Bupati Mahakam Ulu (Mahulu) Angela Idang Belawan mengunjungi anak-anak Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang berkumpul di Balai Adat Tiong Bu'u, Kecamatan Long Apari, Rabu (7/10).

Di tengah kegiatan tersebut, Angela tidak hanya berbincang dengan anak-anak, tetapi juga membacakan dongeng dan berinteraksi langsung bersama mereka. Kegiatan itu menjadi bagian dari upaya mendorong budaya literasi sekaligus membangun kedekatan antara anak dan orangtua sejak usia dini.

Baca Juga: Dana Dasawisma Mahulu Dimulai Rp100 Juta, Bupati Angela: SDM Harus Disiapkan Lebih Dulu

Usai kegiatan, Angela mengatakan kebiasaan membaca dongeng bersama orangtua memiliki manfaat lebih luas daripada sekadar meningkatkan kemampuan membaca anak. Aktivitas tersebut dinilai dapat memperkuat bonding atau ikatan emosional antara anak dan orangtua.

“Menurut saya penting sekali dari dini kita mendekatkan bonding antara orangtua dan anak dengan membiasakan untuk membaca dongeng bersama. Itu juga membuat minat anak untuk membaca tumbuh, jadi tidak hanya tergantung pada gadget,” kata Angela.

Baca Juga: Bupati Angela Minta Dasawisma Jadi Garda Depan Hadapi Kemarau

Menurutnya, kebiasaan tersebut juga dapat menjadi salah satu cara mengurangi screen time atau waktu anak menggunakan perangkat digital. Orangtua diharapkan dapat menyediakan aktivitas alternatif yang menyenangkan dan edukatif di lingkungan keluarga.

Angela menilai buku cerita, terutama buku yang memiliki gambar menarik dan berwarna, dapat menjadi sarana yang efektif untuk mengenalkan anak pada dunia literasi.

Baca Juga: Dari RT hingga Keluarga, Pemkab Mahulu Ingin Program Pemberdayaan Beri Manfaat Nyata

Namun, ia mengingatkan bahwa pemenuhan kebutuhan buku bacaan anak harus didasarkan pada pendataan yang baik. Dengan begitu, jenis buku yang diberikan benar-benar sesuai dengan kebutuhan dan ketertarikan anak.

“Tadi ibu menyebutkan juga soal pembagian buku dongeng. Saya minta dipetakan dulu, didata dengan baik sehingga tidak ada kebutuhan yang tidak tercukupi,” ujarnya.

Ia menyebut buku dengan ilustrasi berwarna maupun buku yang memiliki konsep tiga dimensi dapat menjadi salah satu pilihan bacaan yang menarik bagi anak-anak usia dini.

Selain persoalan literasi, Angela juga mengingatkan orangtua agar lebih mengenali karakter dan perkembangan anak. Menurutnya, anak yang aktif tidak serta-merta dapat disebut mengalami gangguan tertentu.

Orangtua, kata dia, perlu memahami perbedaan antara anak yang memang memiliki karakter aktif dengan kondisi seperti ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder), sehingga tidak terburu-buru memberikan penilaian terhadap perilaku anak.

“Orangtua harus memahami bahwa anak yang aktif tidak semuanya ADHD. Harus dipahami ADHD itu seperti apa dan anak yang normal aktifnya seperti apa,” katanya.

Angela menekankan, pendidikan anak tidak sepenuhnya menjadi tanggung jawab sekolah. Rumah menjadi lingkungan pendidikan pertama bagi anak, sementara guru melanjutkan proses pendidikan ketika anak berada di sekolah.

Karena itu, diperlukan kolaborasi yang kuat antara keluarga dan sekolah dalam memahami kebutuhan serta perkembangan masing-masing anak.

“Kita harus mengenal anak-anak kita. Jangan hanya memberikan semua pendidikan ke guru. Kalau di rumah orang tua adalah pendidiknya, kalau di sekolah guru-guru adalah pendidiknya,” ujar Angela.

Menurutnya, keterlibatan orangtua dalam aktivitas sederhana seperti membacakan dongeng dapat menjadi bagian penting dari proses tersebut. Selain membantu membangun kebiasaan membaca, kegiatan itu memberikan ruang bagi orangtua untuk berkomunikasi, mendengarkan, dan memahami anak secara lebih dekat.

Angela berharap kegiatan literasi yang melibatkan anak dan keluarga dapat terus dikembangkan, dengan penyediaan bahan bacaan yang sesuai karakter dan kebutuhan anak-anak di Mahulu.

“Kolaborasi antara keluarga, antara orang tua dan sekolah juga harus terjadi,” pungkasnya. (*)

 

 

Editor : Sukri Sikki
Angela Idang Belawan mahulu orangtua anak-anak Long Apari