JAKARTA - Awal tahun ini disambut dengan melonjaknya angka demam berdarah dengue (DBD). Hingga minggu ke-8 2024, sudah 15.977 pasien dan 124 diantaranya meninggal dunia. Menurut data Kementerian Kesehatan, Jawa Barat jadi penyumbang tertinggi. Yakni 4.348 kasus dengan jumlah kematian 33 orang. Direktur Pencegahan dan Pengendalan Penyakit Menular Kemenkes Imran Pambudi memberikan alasan kenapa DBD menjadi penyakit tahunan yang terus ada dalam siklus tertentu. Menurutnya, DBD sangat dipengaruhi iklim.”Cuaca ekstrim sertu El Nino yang kering dan bersuhu tinggi akan menyebabkan peningkatan gigitan nyamuk,” tuturnya.
Setelah El Nino melanda Indonesia, lanjut La Nina yang membawa hujan. Genangan air menjadi tempat berkembang biak nyamuk. DBD ditularkan melalui nyamuk Aedes aegepty yang membawa virus dengue. Daerah tropis seperti Indonesia menjadi sarangnya. Pada kasus parah, bisa enyebabkan pendarahan dan menyebabkan kematian. Untuk itu Imran menyebut pengendalian vektor, nyamuk, menjadi hal yang harus dilakukan. Terutama bagi daerah yang langganan DBD tiap tahunnya.
”Ada kasus yang asimtomatis atau tidak bergejala,” tutur Imran. Kasus ini bisa menularkan DBD. Kemenkes sebenarnya telah mencanangkan pengendalian nyamuk dengan metode wolbachia. Ada lima daerah yang jadi pilot project. “Dalam perjalanannya banyak isu negatif yang mengganggu kami dalam mengembangkan nyamuk wolbachia,” ujarnya. Ahli kesehatan Tjandra Yoga Aditama mengatakan bahwa WHO sudah mengatur untuk pengendalian DBD adalah dengan pengendalian vektor. Sebab jika sudah terlanjur sakit tidak ada obat untuk membunuh virus dengue. “Deteksi awal dan akses pada pelayanan kesehatan yang baik merupakan kunci utama untuk menurunkan angka kematian,” bebernya. Indonesia menargetkan zero dengue pada 2030. Tjandra mengingatkan bahwa pengendalan dengue harus menyeluruh. Komunikasi risiko yang aktif kepada masyarakat pun harus dilakukan. (lyn/jpg)
Editor : Muhammad Rizki