Menurut pihak keluarga korban, video polisi tembak pelajar tersebut didapat dari minimarket di Jalan Candi Penataran, Kalipancur, Ngaliyan, Kota Semarang.
Video tersebut ditunjukkan oleh anggota keluarga korban–yang meminta tak disebutkan namanya–kepada wartawan, juga komisioner Komnas HAM yang menyelidiki kejadian tersebut.
Keluarga korban mengaku berupaya menggali fakta-fakta secara mandiri hingga mendapatkan rekaman CCTV minimarket tersebut.
“(Rekaman CCTV) ini kan yang diambil sama orang Polrestabes (Semarang), cuma saya masih dapat. Ya bukan saya lah (yang mendapatkan rekaman CCTV-nya), ada yang bisa mendapatkan,” ujarnya.
Rekaman CCTV pada tanggal 24 November 2024, pukul 00.20 WIB, itu memperlihatkan fakta berbeda dengan keterangan polisi.
Dalam video tersebut tidak terlihat adanya aksi tawuran antar-kelompok gangster serta membawa senjata tajam seperti yang dinyatakan pihak kepolisian.
Selain itu, juga tidak ada aksi penyerangan terhadap Aipda Robig Zaenudin, layaknya yang disebutkan pihak berwajib yang mengatakan, anggota Polrestabes Semarang itu terpaksa melepaskan tinta panas lantaran diserang saat melerai tawuran.
Rekaman berdurasi 41 detik tersebut justru memperlihatkan seorang pria berpostur tegap, diduga Aipda Robig Zaenudin, mengendarai motor berjenis Nmax atau PCX menghentikan laju motornya di lokasi TKP.
Sesaat kemudian, pria ini melintangkan motornya tepat di tengah jalan. Pria tersebut lantas dengan cepat turun dari motor sembari menembakkan pistolnya ke arah tiga motor yang melintas, salah satunya ditengarai motor yang ditumpangi Gamma.
Ia terlihat sempat jatuh terduduk saat ketiga motor yang ia tembaki melintas di depannya. Pria ini lantas kembali meraih motornya lalu memutar balik arah dan mengejar ketiga motor tersebut.
Pria ini terlihat sempoyongan saat berjalan, bahkan sempat terjatuh bersama motornya saat memutar balik arah untuk mengejar tiga motor yang ditembakinya.
Sementara itu, dilansir dari berbagai sumber, pihak keluarga korban mengaku sempat diintervensi oleh polisi agar kasus penembakan tidak diungkap ke publik.
Keluarga siswa SMKN 4 Semarang ini mengatakan, sehari pasca kejadian, rumahnya didatangi sejumlah wartawan dan polisi dari Polrestabes Semarang.
Keluarga kemudian diminta membuat video pernyataan untuk mengikhlaskan kepergian almarhum, namun ditolak pihak keluarga.
Saat ini, keluarga Gamma telah melaporkan kasus penembakan yang kronologinya dirasa masih janggal tersebut ke Polda Jawa Tengah (Jateng).
Mereka tidak bisa menerima tuduhan polisi yang menyebut korban sebagai pelaku gangster dan meminta keadilan untuk korban.
“Kami buat laporan polisi ke Polda Jateng hari Selasa kemarin. Keluarga juga ikut mencari informasi peristiwa tawuran ke daerah sekitar perumahan Paramount dan depan mini market,” imbuhnya.
Untuk diketahui, Aipda Rodig Zaenudin menembak tiga pelajar SMKN 4 Semarang di depan Perumahan Paramount, Semarang Barat, Minggu (24/11/2024) dini hari.
Salah satu korban Bernama Gamma Rizkynata Oktafandi tewas setelah tembakan mengenai pinggulnya. Sementara korban lainnya juga terkena tembakan namun masih selamat.
Terdapat kejanggalan pada keterangan yang diberikan pihak kepolisian terkait kronologi penembakan tersebut.
Polisi menyebut, korban tertembak lantaran terlibat aksi tawuran dan merupakan anggota gangster. Pihak keluarga tidak terima dengan pernyataan itu. Kini meminta keadilan untuk mengembalikan nama baik korban. (*)
Editor : Almasrifah