KALTIMPOST.ID, PEKANBARU – Seekor harimau sumatera dewasa yang menerkam pekerja kehutanan hingga tewas di wilayah Pelalawan, Riau, kini masih dikarantina oleh Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau.
Harimau yang berhasil ditangkap menggunakan perangkap khusus itu belum akan dilepasliarkan dalam waktu dekat karena masih menjalani proses rehabilitasi dan habituasi.
Kepala Bidang Konservasi Sumber Daya Alam Wilayah II BBKSDA Riau, Ujang Holisidin, menjelaskan bahwa saat ini fokus pihaknya adalah menyelesaikan proses pemulihan kondisi harimau sebelum memutuskan langkah selanjutnya.
Hewan buas yang statusnya terancam punah itu terus mendapatkan perawatan intensif di fasilitas konservasi. Di sisi lain, pemantauan di lokasi konflik juga masih terus dilakukan guna memastikan tidak ada serangan susulan dari harimau lainnya.
Baca Juga: Mengejutkan, Kantor Tempo Dapat Kiriman Kepala Babi, Jurnalis Bocor Alus Politik Jadi Target Sasaran
Insiden tragis yang menewaskan pekerja kehutanan bernama Yafao Zebua terjadi pada Kamis (13/3) sekitar pukul 19.00 WIB. Kala itu, korban hendak pulang ke camp dengan menaiki perahu melalui kanal, namun baru berjalan sekitar 10 meter dari titik keberangkatan, ia disergap harimau secara tiba-tiba.
Tubuh korban ditemukan dalam kondisi mengenaskan dengan luka cakaran di bagian kepala belakang dan leher, serta gigitan parah di paha kanan atas. Yafao dinyatakan tewas di lokasi kejadian.
Sempat beredar kabar bahwa bukan hanya satu, tetapi ada lebih dari satu ekor harimau yang berkeliaran di sekitar area hutan tanaman industri tersebut.
Namun, hingga lebih dari sepekan pemantauan, BBKSDA menyatakan baru satu individu harimau yang terdeteksi melalui kamera trap, yakni yang kini sudah ditangkap.
Meski begitu, Ujang menegaskan pihaknya akan terus melakukan pengawasan intensif dan mengimbau pihak perusahaan serta para pekerja agar tetap waspada.
Area tempat insiden ini terjadi memang berdekatan dengan Lanskap Semenanjung Kampar yang dikenal sebagai habitat alami harimau sumatera.
Oleh karena itu, potensi konflik satwa-manusia di kawasan tersebut selalu terbuka. BBKSDA mengingatkan bahwa koordinasi dan kewaspadaan mutlak diperlukan untuk mencegah tragedi serupa terulang.(*)
Editor : Thomas Dwi Priyandoko