KALTIMPOST.ID, Kebijakan program Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi yang mengirim anak-anak bermasalah ke barak militer rupanya hingga saat ini menuai pro dan kontra.
Gagasan Dedi Mulyadi terkait solusi penanganan anak-anak bermasalah adalah dengan mengirim ke barak militer guna mendapatkan pembinaan kedisiplinan.
Hal ini pun mendapatkan kritik tajam dari pengamat politik Tanah Air Rocky Gerung.
Rocky Gerung yang dikenal dengan retorika filsafatnya menyebut mengirim anak-anak bermasalah ke barak militer sebagai pemikiran dangkal.
Menurut Rocky, pendekatan yang dipakai Dedi Mulyadi dalam programnya tidaklah efektif. Sebab hanya mendisiplinkan tubuh seseorang, bukan pikiran.
“Kirim ke barak itu dangkal. Barak itu didisiplinkan tubuhnya,” ucapnya
Rocky bahkan mengutip teori disciplinary society ala Michael Foucault, seorang filsuf terkenal asal Prancis yang menyebut fungsi barak militer itu untuk mendisiplinkan tubuh, bukan membentuk pemikiran.
“Kalau kita belajar teori-teori discipline society ala Michael Foucault misalnya, fungsi barak militer mendisiplinkan tubuh, bukan mengajak orang berpikir,” terangnya.
Rocky berpendapat bahwa anak nakal merupakan tanda adanya kreativitas. Untuk itu perlu adanya ilmu khusus Pendidikan anak alias pedagogik.
“Anak itu nakal karena kreativitasnya bertumbuh, sehingga diperlukan pedagogi. Yang dihasilkan Dedi medagogi itu, kirim ke barak,” katanya.
Rocky juga menyebut pikiran tak bisa didisiplinkan malah diprovokasi untuk berpikir nakal.
“Pikiran enggak bisa didisiplinkan. Sementara itu adalah anak didik, gimana mendisiplinkan pikiran anak didik? Justru anak didik itu diprovokasi untuk berpikir nakal. Itu formatnya di situ. Pikiran kita dibentuk di dalam usia 5, 7 sampai 13 tahun di situ kenakalan fungsinya kreatif,” tandasnya.
Editor : Hernawati