Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Mengapa Siswa Masih Sulit Paham Bahasa Indonesia? Ini Jawaban Menohok dari Menteri dan Badan Bahasa

Dwi Puspitarini • Selasa, 24 Juni 2025 | 17:31 WIB

 

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti.

KALTIMPOST.ID, Kemampuan literasi siswa Indonesia, khususnya dalam memahami dan menggunakan bahasa Indonesia dengan benar, masih tergolong rendah.

Temuan ini disampaikan langsung oleh Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Hafidz Muksin, yang menyebutkan bahwa mayoritas siswa tingkat SMP hingga SMA berada di kategori kemampuan bahasa yang terbatas.

“Siswa SMP kita banyak yang masih berada pada tingkat marginal. Begitu juga SMA dan SMK. Ini tidak bisa dibiarkan,” ujar Hafidz saat berbicara dalam acara Pak Menteri Menyapa Guru Bahasa Indonesia di Kemendikdasmen, Jakarta, Selasa (24/6/2025).

Hafidz juga menyoroti betapa minimnya minat baca di kalangan masyarakat. Berdasarkan kajian UNESCO yang ia kutip, hanya 1 dari 1.000 orang Indonesia yang memiliki minat baca tinggi.

“Ini pasti ada yang salah dalam proses pengajaran kita,” tegasnya.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, juga tak menampik adanya masalah serius dalam proses belajar Bahasa Indonesia.

 Baca Juga: Tunjangan Sertifikasi Guru Triwulan 2 2025 Cair Lebih Awal? Ini Jadwal dan Daftar Daerah yang Sudah Terima!

“Selama ini pengajaran bahasa kita terlalu normatif dan kurang inovatif. Siswa bisa membaca, tapi tidak memahami. Mereka bisa bicara, tapi tak membangun makna,” kata Mu’ti.

Mu’ti mengatakan, saatnya guru bahasa Indonesia mulai meninggalkan metode lama dan mengadopsi pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning).

Tujuannya bukan hanya agar siswa bisa membaca dan menulis, tapi agar mereka benar-benar memahami isi bacaan dan mampu bernalar kritis lewat bahasa.

“Kita ingin siswa tak sekadar bisa membaca, tapi bisa memahami apa yang dibaca dan berpikir logis atasnya,” ucapnya.

Mu’ti menyebut bahwa krisis literasi juga berkontribusi terhadap maraknya kegaduhan digital yang tak berdampak konstruktif.

Banyak anak muda menggunakan Bahasa Indonesia untuk membuat “noise” alih-alih “voice”.

 Baca Juga: Tunjangan Sertifikasi Guru Triwulan 2 2025, Benarkah Cairnya Bertahap? Ini Penjelasan dari Kemenkeu

“Padahal, bahasa itu kekuatan untuk menyampaikan gagasan, bukan sekadar ocehan kosong di media sosial,” tambahnya.

Forum dialog tersebut melibatkan lebih dari 5.000 guru Bahasa Indonesia dari seluruh Indonesia, baik secara luring maupun daring.

Guru didorong menjadi garda terdepan dalam transformasi pembelajaran Bahasa Indonesia yang menyenangkan, bermakna, dan kontekstual.

“Guru bahasa Indonesia tentu kami harapkan menjadi garda terdepan untuk meningkatkan literasi bangsa kita,” ujar Hafidz Muksin. ***

Editor : Dwi Puspitarini
#abdul mu’ti #krisis literasi #Literasi Siswa #bahasa indonesia